Griven H. Putera
Sastra Melayu dan Indonesian State
Tak ada sastra tiada Negara.
Suatu wilayah dikatakan merdeka dan berdiri setelah diproklamirkan dengan sebuah pernyataan dalam bentuk teks. Teks proklamasi menggunakan bahasa. Dan, teks proklamasi Indonesia menggunakan bahasa yang sastrawi. Bahasa yang sederhana, indah dan memukau.
Selain itu, Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri menyebut secara jelas, bahwa teks Sumpah Pemuda adalah puisi.
Ya, alasannya jelas, bahwa kata-kata yang terkadung dalam teks Sumpah Pemuda mengandung keindahan bunyi dan menyiratkan mimpi-mimpi indah manusia nusantara, terutama kaum muda ketika itu tentang nasib bangsanya di masa depan. Karena mimpi itu impian besar, maka ia pun menjadi puisi besar yang mampu menggerakkan jutaan manusia tanpa sekat asal, suku, puak dan agama untuk mewujudkannya secara berjemaah.
Selain teks Sumpah Pemuda dan teks Proklamasi, preambule pembukaan UUD 1945 pun tak lepas dari peran bahasa yang sastrawi karena selain indah juga mengandung metafor dan tafsiran makna yang kaya. Salah-satu contoh pada kalimat “…mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia….” Ungkapan itu mengandung keindahan bunyi, poetry image, metafor dan makna yang besar serta menghendaki penafsiran yang amat panjang dan beragam. Misalnya tentang di pintu gerbang kemerdekaan. Pesan apa sesungguhnya yang ingin disampaikan Muhammad Yamin, Sukarno dan kawan-kawan ketika itu? Apakah itu siratan kalau bangsa ini tak pernah sampai pada matlamat kemerdekaan yang sesungguhnya? Kenyataannya, bukankah dari dulu sampai kini, anak bangsa ini hanya berdiri di pintu gerbang kemerdekaan itu? Kapan baru masuk dan menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya? Lihat puisi sastrawan Hamid Jabbar yang berjudul “Proklamasi 2” berikut:
Proklamasi 2
Kami bangsa Indonesia/ Dengan ini menyatakan
Kemerdekaan Indonesia/Untuk kedua kalinya
Hal-hal mengenai/Hak asasi manusia
utang piutang/dan lain-lain
yang tak habis-habisnya/INSYA- ALLAH
akan habis/diselenggarakan dengan cara seksama
dan dalam tempo/yang sesingkat-singkatnya
Jakarta, 25 Maret 1992/Atas nama bangsa Indonesia
Boleh – Siapa Saja
Kata-kata indah yang padat penuh makna dan mengandung multi tafsir itu merupakan bagian dari sastra. Kenyataan di atas itulah yang menunjukkan betapa besar peran sastrawan intelektual bagi pendirian bangsa ini. Walaupun bukan sastrawan murni tapi minimal para pendiri bangsa ini adalah orang-orang yang mencintai sastra, membaca karya-karya sastra dan melaungkan pesan besar dari kesusastraan itu kepada umat manusia.
Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI] yang diilhami pergerakan Budi Utomo 1908, dan pergerakan-pergerakan pemuda lainnya sebelum itu hingga Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang lalu, dan tercetusnya isi Sumpah Pemuda itu tak lepas dari campur tangan intelektual-sastrawan. Pada Sumpah Pemuda terlibat kuat sastrawan-budayawan seperti Mr. Muhammad Yamin dan lain-lain. Ini juga menyiratkan, betapa sastrawan-intelektual Sumatera [baca: Melayu] memainkan peran vital bagi lahir dan besarnya NKRI ini karena bahasa yang digunakan sebagai teks sumpah pemuda itu bahasa Melayu Riau walaupun Muhammad Yamin sendiri lahir di Sawah Lunto Sumatera Barat, tapi tentulah saat itu ia tidak memakai bahasa tempatnya lahir tersebut.
Muhammad Yamin adalah ahli hukum yang seniman. Ia perumus Pancasila, pembukaan dan UUD 1945 bersama Sukarno dan kawan-kawan. Ia juga menjadi pemakalah pada kongres pemuda I sebelum tercetusnya Sumpah Pemuda.
Karya Muhammad Yamin di bidang sastra antara lain: Tanah Air [1922], Indonesia Tumpah darahku [1928], Kalau Dewi Tara Sudah Berkata [1932]. Karya terjemahannya: Menantikan Surat dari Raja [1928, Rabindranath Tagore], Julius Caesar [1951, William Shakespear] dan lain-lain.
Selain Muhammad Yamin, ada lagi Haji Agus Salim yang mengumandangkan bahasa Melayu [Indonesia] pertama kalinya di depan peserta Volkraads [sidang resmi dalam organisasi bentukan Belanda] pada tahun 1916. Pidatonya tersebut mengegerkan para petinggi Belanda saat itu. Haji Agus Salim merupakan produk pendidikan Riau. Sebelum bersekolah HBS di Jakarta, ia menghabiskan masa kecil bersekolah ELS [Europe Lagere School] di Riau karena ayahnya menjadi jaksa di Riau saat itu. [Ini menunjukkan bahwa ternyata lembaga pendidikan Riau sangat berkualitas di masa lampau karena bisa melahirkan tokoh sebesar Haji Agus Salim]. Haji Agus Salim sendiri, selain dikenal intelektual dan ulama, beliau juga seorang intelektual yang sastrawan, minimal menyukai dan dalam dirinya menyimpan semangat kesastrawanan yang kuat. Hal ini bila dilihat dari kerjanya yang pernah menjadi ketua Penerbit Balai Pustaka di masa awal lembaga itu berdiri. Beberapa karya sastra asing yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia adalah: The Taming of the Shrew [Menjinakkan Perempuan Garang] dan Hamlet karya William Shakespear. Mowgly Anak Didikan Rimba karya Rudyard Kipling. Selain Muhammad Yamin dan Haji Agus Salim, ada lagi Abdul Muis ; salah-satu tokoh sentral Sarekat Islam selain Cokroaminoto dan Haji Agussalim. Abdul Muis menulis novel Salah Asuhan [1928], Pertemuan Jodoh [1933], Surapati [1950], Robert Anak surapati [1953]. Karya terjemahannya antara lain: Don Quisote de la Manca [1928, Cervantes], Tom Sawyer Anak Amerika [1928, Mark Twain], Sebatang Kara [1932, Hector Malot], Tanah Airku [1950, Swan Koopman].
Hari ini, hanya berapa banyak pemimpin bangsa yang suka membaca karya sastra dan bergaul akrab dan mau mendengar suara sastrawan?
Jika pemimpin yang tak bergelimang dengan sastra dan kesenian terus menguasai Negara ini, maka jangan harap kesejahteraan dan kemakmuran akan tiba, karena manusia yang memiliki halus dan lembut rasa serta punya mimpi besar dan panjanglah yang akan mampu menjadi pemimpin rinduan rakyat. Karena fungsi sastra itu memang memperhalus akal-budi manusia. Manusia yang berakal-budi halus yang akan senang dan bahagia melihat orang lain tertawa, serta akan mudah mengucurkan airmata bila menengok orang lain yang dilanda nestapa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar