Griven H. Putera
Riau Rindu Arwin
Agaknya, perjalanan panjang peradaban yang kita tunggu-tunggu, kita nanti-nanti, yang hendak kita jemput selama ini hanya melahirkan generasi-generasi yang lesu dan ‘kurang gizi’. Ya, dunia politik kita hari ini, dunia penegakan hukum dan penyelenggaraan pemerintahan, dunia kebudayaan dan kesenian, dunia kampus dengan segala ihkwalnya, dunia sosial-ekonomi, dunia keagamaan dan kelembagaannya; dunia kreatifitas macam-macam kita di Riau hari ini, semuanya semakin kerut-merut, seperti makin penuh cacat-cela sahaja. Ternyata kegemilangan peradaban ranggi yang kita nanti-nanti, yang diperjuangkan selama sekian masa secara mati-matian akhirnya hanya berona seperti cahaya bulan jatuh ke air ketika pagi merekah. Pucat pasi tiada bermaya.
Hari demi hari, negeri-negeri di Riau terasa semakin suram, buram dan muram karena satu persatu pemimpinnya hilang dari peredaran. Sementara anak negeri yang ditinggalkan serupa orang layu semangat. Umpama tebu mati pucuk.
Padahal, ketika beberapa daerah awal dimekarkan, Riau berhasil menemukan anak-anak watan nan gemilang yang tampil ke depan sebagai pemimpin cemerlang; anak negeri yang mampu membangkitkan batang tenggelam, seperti Tengku Azmun Jaafar di Pelalawan, Arwin AS Di Siak, dan lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, mereka satu persatu disapu angin puting beliung nun amat dahsyat yang tersangkut kasus-kasus hukum.
Sejak kepergian mereka, rumah yang ditinggalkan, negeri yang selalu terdengar derai tawa dan tempik sorak derau sederau saban saat kembali terasa sunyi dan sepi. Geliat dan cahaya pembangunan sedikit tertimbus kabut. Pelalawan dan Siak bagai negeri baru dialah burung garuda seperti yang banyak termaktub dalam cerita-cerita Rakyat Melayu selama ini. Di Siak saja misalnya, setelah ditinggal pergi Arwin AS, masyarakat tidak menemukan lagi gebrakan baru yang menyentak sekaligus menggembirakan dalam bidang pembangunan. Setelah bangunan monumental seperti jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah [yang dihajatkan Arwin sebagai pemecah kebekuan dan keheningan yang menimpa Siak. Jembatan yang juga dikasadkan menjadi media pelancar ekonomi masyarakat, sarana bagi memudahkan gerakan manusia untuk saling bertemu, bersilaturrahmi, dan saling berkunjung, yang memudahkan orang untuk saling berkomunikasi dan membina keakraban di antara mereka yang di selatan dengan yang di utara, mereka yang di barat dan yang di timur. Mereka yang di hilir dan kaum puak yang di hulu Siak untuk saling kenal, dan berkomunikasi dengan baik. Sehingga mereka mencintai Siak sebagai rumah bersama tanpa memandang asal suku, puak dan bangsa], juga rencana Arwin untuk membangun kawasan industri dan pelabuhan samudera Tanjung Buton, pembangunan highway [lebuh raya], Siak Ekowisata, pencanangan Taman Nasional Zamrud, konsisten mencari bibit qari-qariah lokal untuk MTQ dan atlit lokal serta sejumlah gerakan gemilang. Kini, apa lagikah yang bisa disebut-sebut, didengung-dengung dan dibendang-bendang di serata negeri Siak dan Riau secara umum semenjak Arwin pergi?
Pikiran Arwin AS tentang Siak Ekowisata saja misalnya, merupakan satu mimpi dari sekian impian Arwin yang patut mendapat apresiasi dari semua kalangan. Lihat saja, bagaimana Kampung Mempura yang sekian lama seperti terbiar hendak disulap menjadi pusat kawasan wisata yang bertujuan menjaga kelestarian alam, menjaga keutuhan budaya Melayu serta menjadi pusat bangkitnya ekonomi Siak. Plus, semua itu memberi nilai tambah secara material maupun nonmaterial bagi masyarakat tempatan. Kampung Mempura asri dengan kayu-kayan dan pokok buah-buahan. Halaman-halaman rumah penduduk dipadati dan dihias dengan taman-taman sayur dan buahan yang menghasilkan nilai ekonomi keluarga. Atraksi budaya tempatan seperti menari zapin, barzanji, melantun syair, menabuh kompang dan alat musik menyambut cahaya bulan di langit malam dan lain sebagainya tetap berdentung-dentang sebagai suguhan batin bagi para pengunjung. Siak ingin maju dalam deru pembangunan tanpa membuang dan membabat segala sesuatu yang berbau lokal. Kemajuan fisikal tetap dibingkai oleh kemajuan spiritual. Artinya, kebijakan beliau tetap memelihara dan mengembangkan budaya lokal, menerapkan nilai-nilai luhur Melayu-Islami dalam kehidupan sehari-hari menuju kebudayaan yang tidak menyampingkan agrobisnis dan teknologi industri yang menghasilkan materi. Dalam Eko Wisata Mempura itu, Arwin AS punya mimpi membangun monumen buah-buahan, taman burung dan kupu-kupu, membangun home stay bagi peziarah wisata, membangun infrastruktur yang layak, membangun kembali duplikat istana dan rumah Datuk 4 [empat] suku sebagai upaya mengenang jasa orang-orang hebat di Siak tempo dulu, membangun museum tenun sebagai wadag pembelajaran wirausaha bagi anak negeri, membangun DAM Sungai Mempura sebagai bentuk kepedulian kepada alam yang telah berjasa membesarkan manusia Melayu dengan tabiat lembut penuh damai, melayani umat manusia penuh kasih tulus dan telus, membangun dermaga sampan, taman air, membangun jembatan sebanyak-banyaknya sebagai sarana silaturrahmi; penghubung dari kampung ke kampung sehingga tak ada lagi cerita tentang adanya kampung terisolir atau desa tertinggal, membangun pasar tradisional yang dimanagemen dengan rapi, mendirikan lembaga pendidikan berbasis lingkungan, dan lain sebagainya. Kini impian Arwin itu seakan ditelan ular naga besar seperti Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah nan melintang panjang di atas Sungai Siak. Kini, semua itu memang menjadi mimpi Arwin di tengah hari. Padahal, menurut Arwin, semua itu ia lakukan karena hutang kepada sejarah, hutang kepada zaman, hutang kepada kemanusiaan. Dan dalam buku Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, Arwin jelas menyebutkan secara tegas, bahwa seluruh hajat sebesar apa pun, tetap diawali dengan sebuah utopia. Sebuah impian, sebuah hayalan. Kita pun tahu, semua peradaban besar di dunia ini terjadi berkat ada orang yang tergolong “pemimpi yang pemikir dan pemikir yang pemimpi”. Untuk mewujudkan sebuah utopia, diperlukan niat dan kerja keras. Namun sebuah kerja keras selalu berhadapan dengan rintangan. Rintangan dari sebuah kerja keras adalah bagian dari asam garam untuk penyedap perjalanan usaha tersebut. Sebuah ungkapan yang terngiang di telinga kita adalah ucapan Presiden Kennedy, bahwa “sebuah prestasi akan menciptakan seribu musuh”. Nah dari sinilah, ikhtiar untuk memanjat ‘gunung tinggi’ dalam bentuk rintangan itu dilakukan. Maka saya pun memanjat ‘gunung tinggi’ itu... Demikian kata Arwin.
Kini, setelah Arwin ‘dibuikan’ maka semua impian itu seperti sirna. Siak hari ini seolah sudah seperti rumah tua yang ditinggalkan atau barangkali sudah menjadi kuburan sepi di ujung tanjung dan terletak di tanah seberang. Orang memang berlalu-lalang dan melakukan sejumlah aktifitas bangun membangun dengan leguh-legah tapi hanya serupa kegiatan rutin yang membosankan. Ini bukan disebabkan karena pemimpin sekarang kurang kapabel, kurang kredibel dan tidak berwawasan maju seperti Arwin AS, atau Arwin lebih hebat daripada bupati dan pejabat lainnya di Siak hari ini. Bukan. Bukan itu pasalnya! Akan tetapi lebih disebabkan sistem pemerintahan, sistem hukum di negara ini [baca: Indonesia] dengan segala macam perangkatnya membuat orang ekstra hati-hati sehingga melakukan segala-sesuatu seperti takut-takut, penuh kekhawatiran dan kecemasan. Menjadi pejabat atau pun ‘pemimpin pemimpi’ atau ‘pemimpi yang pemimpin’ yang ‘gila’ di negeri ini sekarang bagai telah memasukkan sebelah kaki ke dalam bui. Dan setiap pemimpin baru sepertinya mesti mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun ketika baru dilantik. Karena menjadi pejabat atau penguasa sungguhan untuk melakukan sejumlah gerakan perubahan atau pahatan karya yang bersifat monumental dan patut dikenang generasi ke depan [sebagai sejarah emas] di negeri ini bagai telah mendapat musibah yang maha akbar.
Jika situasi ini terus berlangsung, maka zuriat Melayu di hari depan bakal tidak menemukan sesuatu yang pantas dibanggakan dan didendang-dendangkan sebagai buah tangan, sebagai cendrahati yang elok sebagai hasil kerja generasi hari ini. Negeri ini bakal sepi dan kosong dari gerakan dan bangunan-bangunan bersejarah besar.
Sesuatu yang amat mencemaskan ini mesti menjadi buah pikir segenap anak Riau dan para pencinta kebenaran, keadilan dan kemajuan sehingga negeri-negeri di tanah ini kembali bermaya dan bercahaya. Tindakan-tindakan kongkrit penyelamatan terhadap anak negeri sudah semestinya mulai dipikirkan dan dilakukan secara berjemaah. Sudah tiba waktunya upaya kongkrit dan sistematis meninjau kembali proses hukum terhadap mereka dilakukan secara transparan dan berkeadilan, yang bukan saja berdasarkan keadilan responsive semata tapi juga mengacu pada keadilan progresif. Menimbang seberapa besar khilaf dan jasa-jasa yang telah mereka ukir bagi tanah ini. Supaya proses hukum di negeri ini benar-benar menjadi penyelamat manusia dan kemanusiaan, bukan sebagai kapak atau bahkan monster yang membunuh kreatifitas dan moralitas kemanusiaan. Jika itu tak mampu dilakukan, minimal semangat Arwin tetap hidup dan berkobar di dada dan hati anak-anak watan negeri ini.
Griven H. Putera
Cendekiawan Muda Melayu, Plt. Sekretaris Umum Dewan Kesenian Riau Masa Khidmat 2007 - 2012
0 komentar:
Poskan Komentar