Griven H. Putera
Menyimak Bunyi Nurani
Beberapa hari ini, Riau bakal riuh digemuruhkan oleh bunyi-bunyian merdu penuh makna, utamanya bunyi kata-kata yang berubah menjadi puisi hasil perenungan intens manusia-manusia Asia. Ya, Riau bakal gaduh oleh suara hati nurani yang disampaikan melalui media kata-kata yang membawa pesan abadi; yaitu nilai keindahan dan kebenaran hakiki. Nilai yang ada jauh di lubuk hati manusia yang selama ini telah tertulis oleh sebatang kalam Ilahi.
Mulai tanggal 25 sampai 29 Oktober 2011, para penyair Asia atau Korean-ASEAN Poets Literature Festival (KAPLF) II akan mendentingkan dawai kata-kata sebagai bunyi yang menggaung, mendengung jadi nyanyi, mungkin juga serupa rintih perih di serata tempat di Riau. Menyampaikan pesan indah, benar dan sedap didengar lewat bunyi-bunyi yang memesona. Menyelam, meliuk berirama, tersantak pada kedalaman hati insani. Mencunam di telaga jiwa manusia, di mana kebenaran Ilahi bersentana demikian indah, megah dan sasanya. Begitu terang dan berkilau cahanya. Dan kalau tak ada aral, pada 28 Oktober malam akan dilaksanakan penyerahan Anugerah Sagang; sebuah hadiah prestise di bidang kesenian dan kebudayaan bagi insan seniman, budayawan dan makhluk yang saban saat bergaul-gelimang dalam wilayah kesenian dan kebudayaan di Riau maupun di serantau Melayu. Bertepatan pada malam itu juga, mahasiswa Indragiri Hilir pun membuat Pekanbaru gegap-gempena pula dengan menghimpun sejumlah penyair dan seniman Riau lainnya di depan tugu Quick Down PON XVIII 2012 yang bertajuk “Aksi Seribu Lilin untuk Negeri”. Mereka akan mendendang syair dan membentang pikiran-pikiran cerlang untuk melihat kembali sejauh mana peristiwa dan isi teks Sumpah Pemuda yang “dipentaskan” oleh pemuda Indonesia tanpa sekat suku, puak dan agama pada tahun 1928 lalu. Apakah semangat puisi besar bangsa Indonesia itu [teks sumpah pemuda] itu masih punya relevansi kekinian di tengah memudarnya rasa nasionalisme sebagian orang Indonesia hari ini. Ya, terutama, bagaimana Sumpah Pemuda itu punya makna dan pesan khusus bagi generasi muda Riau sekarang dalam membangun tamadun Melayu ke depan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Karena generasi muda dari negeri seribu parit itu pun yakin, bahwa Negara ini juga pada mulanya terwujud dan dibangun oleh “puisi” generasi muda, dibangun oleh sederet mimpi-mimpi kaum belia yang memiliki setampuk impian tentang negaranya pada masa dulunya itu. Karena memang, Sumpah Pemuda itu sendiri adalah puisi, kata Sutardji Calzoum Bachri; anak jati Riau yang Presiden Penyair Indonesia itu pada beberapa waktu lampau.
Bagi Riau, helat-helat seni budaya dalam waktu dekat ini punya arti istimewa bagi kaum muda, karena ditaja dan dimainkan oleh orang muda. Helat memperingati hari Sumpah Pemuda di depan tugu PON XVIII 2012 ini adalah milik orang muda, pun penyair Riau yang akan duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan penyair Asia lainnya juga banyak dari kalangan kaum muda. Sebagian penerima Anugerah Sagang pun direngkuh oleh orang muda. Harapan kita pada mereka, walaupun tak sampai sehebat Attar Malaka, tokoh besar dalam Rahasia Meede, novel hebat ES Ito itu, mendekati semangat Attar pun jadilah. Atau seperti tokoh Wiramal dalam puisi-puisi pendek Nassury Ibrahim dari tanah Malaysia pun tiada pula kurangnya.
Fenomena helat-helat seni-budaya seperti ini merupakan sesuatu yang menggembirakan bagi Riau yang berazam menjadikan negeri ini sebagai Pusat Kebudayaan Asia Tenggara pada tahun 2020 sesuai dengan visinya. Namun untuk mencapai visi atau impian itu tidak cukup menaja helat serupa ini saja tapi bagaimana melakukan sejumlah tindakan dan upaya kongkrit secara sistematis dan terukur dalam upaya “memanusiawikan insan di negeri ini supaya lebih humanis lagi”. Ya, menjadikan Riau sebagai negeri ideal, sebuah negeri yang kata William Butler Yeats [penerima hadiah nobel bidang sastra dari Irlandia], “Ramai oleh puisi dan balada pada satu sisi serta memiliki sistem yang kuat-kawi pada sisi yang lain.”
Laiknya sebuah event atau helat besar, apapun bentuknya tentulah menghendaki sebuah keseriusan, baik dalam penyelenggaraannya oleh pihak panitia maupun bagi para “pengantin”; penyair yang menyampaikan bunyi kata-kata itu.
Helat besar serupa ini jangan hanya menjadi seremonial belaka. Ianya mesti menjadi tugu batu yang sejatinya bisa dilihat dan dikenang oleh generasi Riau di masa depan dalam berbilang masa. Ia jangan berlalu bak angin, mengalir laksana air, jatuh dan gugur serupa daun layu dipantak sengat mentari sepanjang waktu.
Selain itu, apapun bentuk acara kesenian dan kebudayaan yang membahana di negeri ini, idealnya, lebih elok dan sanggamnya, jangan hanya dinikmati oleh insan seniman belaka tapi mestinya dan seharusnya dipersembahkan bagi khalayak masyarakat Riau pada semua lapisan. Karena fungsi sejati seni, utamanya sastra itu adalah memperhalus dan memperbenar akal budi manusia secara universal [baca: memanusiakan manusia itu tanpa sekat sempadan-sempadan sempit yang berdasarkan suku, puak, kelompok, warna kulit maupun agama].
Kalau semua bentuk helat sastra dan seni lainnya hanya disaksikan dan dinikmati atau hanya dipersembahkan bagi suatu kalangan atau sang penyair dan kalangan seniman saja, maka fungsi besar kesenimanan, kesastrawanan dan kecendekiaan yang agung itu menjadi hilang makna dan hambar perisa. Ia akan menjadi sesuatu yang ekslusif, yang terpenjara dalam kerangkeng sempit tanpa arti. Ia tak lebih daripada kicau burung di pagi hari, yang memang dimengerti dan difahami oleh bangsa burung atau oleh orang yang belajar bahasa burung. Tapi di negeri ini, seberapa banyak manusia yang mampu mengerti bahasa burung?
Dan jika helat ini sukses, maka asumsi orang Melayu, bahwa mereka besar itu benar adanya, karena generasi Melayu kini benar-benar sanggup bersanding dan bertanding secara sepadan dan serasi dengan kebudayaan-kebudayaan besar dunia lainnya.
Semoga helat budaya yang menggemuruh dalam beberapa hari ini pantas menjadi cendrahati bagi generasi Riau di masa depan. Menjadi tapak sejarah emas, tugu permata yang molek dilihat dan memiliki nilai keindahan dan kebenaran hakiki di hati anak negeri dalam menapak pembangunan Riau di hari hadapan. Menjadi tempat mereka bercermin dan mengukur diri, hendak diapakan dan dihalakan ke mana haluan negeri ini di masa datang. Dan pristiwa di Riau ini hendaknya menjadi buah bibir yang manis untuk dibawa pulang oleh kafilah kebudayaan dunia lainnya ke negeri mereka masing-masing.
Untuk ke depan, semoga pemerintah daerah dan pihak-pihak swasta hendaknya memberi apresiasi lebih dan sokongan penuh bagi kegiatan-kegiatan semacam ini. Mudah-mudahan Riau makin cerlang dan terang cemerlang.
Griven H. Putera
Cendekiawan Muda Melayu
0 komentar:
Poskan Komentar