Griven H. Putera[1]
Menuju Mushaf Riau
MTQ XXX Tingkat provinsi Riau bakal mulai dilaksanakan pada 26 November 2011 di Rengat, Indragiri Hulu. Layaknya sebuah event budaya Islami, MTQ [Musabaqah Tilawatil Quran] tahun ini tetap berkasad menjadi salah-satu media syiar Islam guna membumikan nilai Alquran bagi masyarakat Riau. Sejumlah cabang kesenian bernuansa Alquran akan ditaja selama MTQ ini, di antaranya kaligrafi Alquran [Khat Alquran] atau lomba menulis indah huruf Alquran.
Kaligrafi Alquran bukan sekedar karya senirupa biasa. Ia memiliki pesona spiritual yang dalam dan kaya makna. Maestro kaligrafi Islam, Yaqut Al-Musta’shimi menyebutnya sebagai “Islamic Calligrafhy is a spritual geometry brought about with material tools”.
Menurut Fauzi Salim Afifi dalam bukunya berjudul Silsilatu Ta’lim al-Khat al-‘Arabi: Dalil al-Mua’llim, di antara peranan kaligrafi dalam pembangunan peradaban manusia adalah sebagai salah-satu sarana penyampai sejarah sepanjang zaman, catatan pristiwa dan sejarah bangsa-bangsa. Di samping itu, kaligrafi juga berperan sebagai salah-satu sarana informasi dan cabang estetika yang bernilai budaya.
Kaligrafi Arab yang lebih dikenal dengan sebutan kaligrafi Islam karena kedudukannya sebagai pusat dan puncak seni Islam [art of Islamic art], pada awalnya adalah sarana ilmu pengetahuan yang berubah menjadi aspek kesenian paling penting yang tumbuh dan berkembang ke aneka gaya atau aliran yang tidak pernah dicapai tulisan-tulisan lain. [Didin Sirojuddin AR, 2005].
Dalam konteks keindonesiaan, kaligrafi berkembang pesat pada era tahun 1980-an hingga saat ini. Berbagai pameran terus diadakan, seperti pameran MTQ, Pameran Wajah Islami, dan Pameran Istiqlal. Ini merupakan penanda kejayaan seni kaligrafi Islam Indonesia. Seni kaligrafi ini pun tak luput dari perhatian pemerintah. Salah-satunya yang dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran [LPTQ] yang turut berperan serta mengupayakan agar kaligrafi lebih membumi di Indonesia. [Nasaruddin Umar, 2007].
Di Indonesia, semakin hari karya kaligrafi kian marak menghiasi ruang-ruang publik, seperti mesjid dan musala. Pun tidak sedikit pula yang telah menjadi hiasan dinding di rumah-rumah biasa hingga tergolong mewah. Akibatnya, tidak sedikit pelukis beralih menjadi pelukis kaligrafi karena pasar karya lukisan kaligrafi dilihat sedikit lebih menjanjikan daripada karya lukis lain umumnya. Mungkin itu pula yang menjadi salah-satu sebab munculnya cabang lomba kaligrafi kontemporer dalam MTQ.
Musabaqah Khat Alquran ini pertamakali dilombakan dalam ajang MTQ di Indonesia pada MTQ Nasional XII tahun 1981 di Banda Aceh.
Dari pelaksanaan MTQ setiap tahunnya lahirlah puluhan bahkan ratusan khattat/khattatah [kaligrafer] yang mampu menguasai tujuh jenis tulisan indah Alquran, yaitu jenis naskhi, tsulusi, diwani, diwani jali, kufi, riq’i, dan farisi di Indonesia. Sebagian kaligrafer pun sudah memahami prinsip-prinsip disain yang mencakup kontras, balance, proporsi, ritme [irama] dan unity [kesatuan] dalam sebuah karya. Sehingga mereka pun sudah ada yang dalam istilah Nasaruddin Umar, menghasilkan karya yang sempurna dengan susunan huruf yang dinamis dan rapi yang diukur berdasarkan keindahan pembagian [husn tawzi’] dan aturan komposisi [ihkam al-tartib].
Lomba kaligrafi ini, di samping bertujuan melestarikan budaya tulis huruf Alquran dalam kehidupan masyarakat, juga diharapkan melahirkan penulis-penulis mushaf Alquran di Indonesia. Sehingga hendaknya setiap daerah mampu membuat mushaf Alquran dengan perisa dan citarasa masing-masing [local sense], dan tentu saja tidak menyalahi penulisan mushaf Alquran standar. Hal ini bisa dilihat dari munculnya berbagai mushaf Alquran di Indonesia dengan berbagai corak ragamnya, seperti Mushaf Sundawi, Mushaf Ibu Tien Suharto, Mushaf Istiqlal, Mushaf Cirebon, Mushaf Banten dan lain sebagainya.
Setelah dimasukkan dalam cabang lomba pada MTQ Nasional, daerah-daerah pun ikut pula meramaikan MTQ dengan cabang kaligrafi ini. Riau juga tak ketinggalan menaja cabang ini, mulai tingkat provinsi, kabupaten, pun ada pula yang sampai pada tingkat kecamatan.
Sejak itu, cabang MKQ atau Musabaqah Khat Alquran tak pernah alpa dalam setiap MTQ yang dilaksanakan di Riau. Kalau awalnya peserta hanya satu orang putra dan putri untuk semua cabang, kini telah menjadi satu orang putra-putri pada tiga cabang, yaitu satu orang putra dan satu putri pada cabang khat naskah, khat dekorasi dan khat hiasan mushaf. Dan berkemungkinan pada MTQ XXXI Provinsi Riau ke depan, muncul lagi lomba menulis indah Alquran kontemporer, lomba menulis atau melukis huruf Alquran secara bebas tanpa terkebat aturan baku [kaidah penulisan huruf Arab] yang selama ini dipegang kuat oleh para khattat.
Lomba menulis indah Alquran pada MTQ XXX Provinsi Riau tahun ini diharapkan mampu melahirkan khattat/khattatah yang menguasai kaidah penulisan Alquran yang benar [al-khat al-mansub] dan berestetika tinggi [al-mansub al-faiq]. Dan dari tangan mereka juga diharapkan nanti muncul Mushaf Riau atau Alquran corak Riau sebagai kado istimewa atau cendrahati yang manis bagi masyarakat Riau di masa depan. Kalau Provinsi muda seperti Banten saja mampu menghasilkan sebuah Mushaf Alquran bercorak Banten, kenapa Riau tidak? Bukankah Riau ini disebut [mengaku] negeri Islami, negeri Melayu yang identik dengan budaya Islam?
Mushaf Riau itu akan maujud bila Pemerintah Provinsi Riau melalui LPTQ Provinsi Riau, Kementerian Agama Provinsi Riau, Lembaga Adat Melayu Riau dan Dewan Kesenian Riau bisa bekerjasama secara intensif memanfaatkan jasa kaligrafer pemenang MTQ dan seniman perupa Riau yang memahami seluk-kelok ornamen Melayu Riau.
Kalau Pemerintah Riau dan lembaga-lembaga terkait mampu melahirkan sebuah mushaf Alquran bercitarasa Riau pada masa ini, maka pemimpin Riau hari ini telah membangun satu monumen pahala atau tugu abadi yang patut ditimang-timang dan dibanggakan anak negeri selama puluhan bahkan ratusan tahun ke depan. Dan insya Allah akan menuai pahala pula dari Allah ‘Azza wa Jalla selama mushaf itu terus dibaca umat manusia sampai tak terbilang zaman.
Perlu diingat, bahwa hidup yang paling bermakna dan bermartabat terjadi ketika seseorang mampu memahatkan sesuatu yang berarti bagi alam sekitar, menikamkan sejumlah jejak dan tapak kenangan yang patut diingat, disimak dan dijadikan contoh dan teladan oleh generasi di masa depan. Wallahu a’lam.
Terbit di Riau Pos, Rabu 23 November 2011
[1] Cendekiawan Muda Melayu, Salah-seorang Majelis Hakim Musabaqah Khat Alquran MTQ XXX Provinsi Riau
Tidak ada komentar:
Posting Komentar