griven
Jumat, 09 Desember 2011
Sabtu, 26 November 2011
daik 2
Griven H. Putera
Ikhwal Bunda Melayu (2)
Melayu dan Topi Profesor
Gunung Daik diselimuti halimun senja. Hitam kayu-kayan di kaki gunung membuat senja semakin gelap dan suram. Perahu boat baru saja menderu, membelah selat Lingga. Angin menampar laut dan perahu bagai marah tak tentu pasal. Tiga orang lelaki berdiri menentang angin laut yang garang. Perahu meluncur bagai di atas ular naga yang bertubuh liat dan kenyal. Jalan perahu meliuk-liuk. Tiba-tiba topi profesor, salah seorang tiga orang yang berdiri melayang, hilang ditelan gelombang. “Topi!” kata lelaki pensiun sastrawan dan berubah jadi fotografer dari Batam memekik kuat. Kuanca perahu menurunkan volume gas. Angin menderu-deru, gelombang bertepuk-tepuk. “Berputar. Topi profesor melayang diterbang angin.” Salah seorang penumpang tersenyum. Dalam hatinya, apa mungkin topi yang bertulis corruptor fighter itu ditemukan lagi? Bukankah gelombang senja ini luar biasa besar? Apalagi hari sudah gelap? Sebagai seorang pengemudi perahu yang handal, tuan kuanca memutar boat ke kiri, lalu berputar sampai kira 180 derjat celsius. Sambil memegang stir kemudi, matanya tak berkedip ke tengah gelombang yang berombak karena angin dan putaran kipas perahu mesin.
“Itu dia!” kata lelaki dari Batam. Pengemudi perahu tenang. Ia melihat juga, dan tentulah ia lebih dahulu nampak karena ia yang dekat, bahkan saban saat bergelut dengan laut dan gelombang. Itu tampak benar pada gerakannya yang tak terbawa oleh dahsyatnya amuk angin dan gelombang laut nan tak bersahabat saat itu. Langit semakin gelap. Laut bertambah kalap.
“Ini, Prof.” Tuan professor tersenyum kecil sambil mengibas-ngibaskan topinya sejenak. Perahu motor kembali menderu, mengiris Selat Lingga hingga gelap benar-benar telah mengepung di mana-mana. Gunung Daik bercabang tiga yang tinggal dua masih tampak bagai pulau-pulau dalam peta yang basah.
Malamnya, tuan profesor serta dua orang muda dari Batam dan Pekanbaru berdiskusi dengan tokoh masyarakat Lingga di hotel Sungling (Sungai Lingga) hingga lidah mereka berbuih-buih. Tuan profesor mengupas Melayu dan tabiat ‘bunda’ yang dikasadkan oleh orang Linga hingga menghabiskan waktu satu jam lebih, dan penjelasan tuan professor itu ditambah lagi oleh fotografer hebat dari Batam hingga sampai sekian menit pula, lalu ditambah lagi oleh orang muda dari Pekanbaru yang menghendaki pemerintah Melayu di Lingga mendirikan rumah sulup karena menurutnya, kelembutan, kesantunan Melayu yang betabiat ’bunda’ yang hakiki itu diilhami oleh ajaran tasawuf yang lembut yang berkembang pesat dahulunya di kawasan tanah ini. “Jika ingin menjadi bunda dari sekian banyak negeri Melayu di kawasan ini, maka Lingga mesti memberi tempat yang lapang bagi penganut ilmu tasawuf untuk mengembang ajarannya, karena kononnya dulu, Islam yang masuk ke nusantara, terutama di kepulauan Melayu adalah Islam bercorak tasawuf. Islam yang bertabiat ‘ibu sejati’, yang selalu menjadi rembulan, menjadi air, menjadi tanah sejuk, menjadi tempayan dari sejumlah tingkah dan kerenah anak-anaknya, nan menampung siapa saja yang perlu dan haus akan kenbenaran, kelembutan dan keindahan sejati. Bukan Islam yang berdasar fikih semata, yang mengutamakan bentuk tanpa isi. Tanpa ajaran kelembutan, keindahan, kearifan kebenaran itu, kita jangan mimpi menjadi bunda di Tanah Melayu yang besar ini!” Semua hadirin yang sebagiannya telah mengantuk sontak bertepuk tangan. Sejurus kemudian mereka termenung. Entah ngantuk lagi, entah tak berdaya, entah apa lah…
Usai diskusi, wakil peneraju kuasa Lingga, dan Kepala Dinas Kebudayaan Lingga menyambut gembira diskusi malam itu dan selekasnya meminta Presiden RI mengeluarkan SK bahwa Lingga segera ditabalkan sebagai Bunda Tanah Melayu. Tuan profesor terperanjat. Terjadilah perdebatan sekejap. Setelahnya, rombongan pemerhati budaya Melayu itu tenggelam nikmat makan asam pedas di sebuah gerai Melayu. Diskusi besar itu sepertinya lenyap dalam sepiring udang dan the manis yang tertimbun di depan mereka malam itu.
Aduhai…Malam di Lingga meninggalkan sejumlah kenangan yang tak mudah dilupakan. Menjenguk seribu tempayan, mengunjungi Mesjid Sultan Lingga, menziarahi pusara Sultan Indragiri dan menyantap masakan Melayu Daik. Malam di Daik membekaskan setumpuk kenangan, asa dan harapan. Meninggalkan sejumlah catatan panjang bagi rute perjalanan tamadun Melayu di masa hadapan.
Menjelang matahari berputik di sela dua gunung kembar Daik, paginya segerombolan burung keluang melakukan penerbangan dengan tenang. Kata Kamarul, orang Daik yang santun dan baik hati itu menyebut, burung itu hendak menyeberang ke tanah Jambi, atau mungkin juga ke Palembang, atau mungkin juga ke Melaka, mereka mencari duku, durian dan pokok-pokok yang sedang berbuah di sana. “Akh, iri benar beta pada burung-burung bersayap lebar itu. Pergi keluar negeri tanpa paspor, tanpa visa.” Tuan dari Batam ketawa terkekeh, terbakah-bakah mendengar cita-cita orang muda dari Pekanbaru itu.
Hari-hari berlalu, berita tentang helat Lingga Bunda Tanah Melayu yang berazam mengumpulkan pikiran orang-orang hebat Melayu serumpun dan hendak menggelorakan Melayu lagi itu entah apa kabarnya. Fotografer dari Batam dan kawan dari Pekanbaru lesu, Tuan Profesor pun diam dan tampak kesal. Hui, kenapa hari ini orang Melayu masih perlu pengakuan dari Jakarta dalam segala hal?
Melihat ini, saya merasa, orang Melayu kini, dalam segala ikhwal dan persoalannya telah seperti topi profesor yang tenggelam di laut senja tempo hari. Masih bisa ditemukan dan diangkat dari pucuk ombak tapi telah basah kuyup, telah dikucah dan dikuncah buih gelombang selama sekian masa. Memang, suatu saat bisa kering dan dapat ditenggerkan lagi sebagai mahkota di puncak kepala tapi harus dijemur dulu di terik panas matahari. Sepertinya, orang Melayu harus ditempa lagi oleh kerasnya lindasan panas dan hoyak zaman yang centang perenang, yang berlangsung terus dan terus hingga jamaah Melayu benar-benar cemerlang lagi di masa datang. Tapi entahlah.
Jumat, 25 November 2011
Alquran di Tengah Danau
Griven H. Putera
Alquran di Tengah Danau
Danau itu terletak di tengah kota. Airnya tenang bagai dituang di dalam mangkuk made in China.
Sebagian danau itu dikelilingi rumah penduduk dan pohonan kayu-kayu tua nan rimbun. Orang-orang menyebut pohon yang tumbuh berderet bagai ditanam itu adalah kayu beringin. Danau nan cantik memesona itu, kata orang bernama Raja. Nama kota yang menerima anugerah taman air alami percikan tanah Surgawi di tengah hiruk-pikuk lalu-lalang manusia itu bernama Rengat. Rengat, sebuah kota tua Melayu tempat pernah bermastautinnya beberapa Sultan Melayu di masa lampau.
Danau Raja, kalau tak ada aral, mulai 26 November hingga 04 Desember 2011 ini, danau nan cantik itu akan menjadi saksi sejarah bahwa seni Alquran akan mengelopak dan mengharu-birukan tanah itu. Siang dan malam seolah tanpa henti. Hujan dan panas tak sudah-sudah. Seni Alquran yang akan bergemuruh itu berupa lomba-lomba, mulai Musabaqah tilawah Alquran [lomba baca Alquran], Musabaqah Qiraat al-Sab’ah [lomba membaca tujuh jenis bacaan Alquran], Musabaqah Tahfiz al-Quran [lomba menghafal Aquran], Musabaqah Fahm Alquran [cerdas cermat Alquran], Musabaqah Kitabati Madhmun al-Quran [lomba menulis isi kandungan Alquran], Musabaqah Khat Alquran [lomba kaligrafi AlQuran], dan Musabaqah Syarh Alquran [lomba pidato isi kandungan Alquran].
Hampir saban tahun perlombaan seni itu dilaksanakan di Riau, harapan terus saja mengalir supaya helat Alquran itu menjadi pemangkin semangat anak-anak tempatan mencintai Alquran dengan sungguh-sungguh, plus mampu pula menguasai cabang-cabang seni yang diperlombakan tersebut. Sehingga Melayu-Islam tetap terlihat sepanjang masa. Hidup bahagia dunia dan akhirat.
Dalam sejarah MTQ di Riau, baru sekali inilah, lomba seni Aquran di buat di tengah danau. Sebuah astaka terapung.
Sebagai sebuah upaya yang unik dan “nyentrik”, penempatan danau Raja sebagai astaka utama MTQ ini perlu mendapat tepuk-tangan. Tapi ada yang perlu diingat dan diperhatikan panitia secara serius, kalau penonton dan penggembira tidak hati-hati, danau nan cantik ini akan memakan korban. Khawatir penonton, terutama kanak-kanak akan tercebur ke danau. Seperti indahnya sekuntum mawar, setiap pemetik kuntum mestilah berhati-hati pada duri yang menyembul di sekelilingnya. Memang, tak ada mawar yang tak cantik dan memesona, tapi kata orang bijak, tak ada mawar yang tak berduri.
Kembali kepada MTQ, usaha LPTQ Riau menaja helat MTQ ini saban tahun perlu mendapat aplaus dari seluruh masyarakat Riau karena Alquran dan masyarakat Riau itu sesungguhnya bagai ikan dengan air. Ikan tak bisa hidup kalau tak ada air. Manusia negeri Melayu tak bisa eksis dan mendapat tempat di hati makhluk dan derajat mulia di mata Tuhan kalau jauh dari Alquran. Apalagi masyarakat Riau telah menyebut diri sebagai makhluk yang berbudaya Melayu. Melayu yang diidentikkan dengan Islam. Kitab suci umat Islam itu adalah Alquran.
Terbit di Koran Riau, Sabtu 26 November 2011
Rabu, 23 November 2011
Menuju Mushaf Riau
Griven H. Putera[1]
Menuju Mushaf Riau
MTQ XXX Tingkat provinsi Riau bakal mulai dilaksanakan pada 26 November 2011 di Rengat, Indragiri Hulu. Layaknya sebuah event budaya Islami, MTQ [Musabaqah Tilawatil Quran] tahun ini tetap berkasad menjadi salah-satu media syiar Islam guna membumikan nilai Alquran bagi masyarakat Riau. Sejumlah cabang kesenian bernuansa Alquran akan ditaja selama MTQ ini, di antaranya kaligrafi Alquran [Khat Alquran] atau lomba menulis indah huruf Alquran.
Kaligrafi Alquran bukan sekedar karya senirupa biasa. Ia memiliki pesona spiritual yang dalam dan kaya makna. Maestro kaligrafi Islam, Yaqut Al-Musta’shimi menyebutnya sebagai “Islamic Calligrafhy is a spritual geometry brought about with material tools”.
Menurut Fauzi Salim Afifi dalam bukunya berjudul Silsilatu Ta’lim al-Khat al-‘Arabi: Dalil al-Mua’llim, di antara peranan kaligrafi dalam pembangunan peradaban manusia adalah sebagai salah-satu sarana penyampai sejarah sepanjang zaman, catatan pristiwa dan sejarah bangsa-bangsa. Di samping itu, kaligrafi juga berperan sebagai salah-satu sarana informasi dan cabang estetika yang bernilai budaya.
Kaligrafi Arab yang lebih dikenal dengan sebutan kaligrafi Islam karena kedudukannya sebagai pusat dan puncak seni Islam [art of Islamic art], pada awalnya adalah sarana ilmu pengetahuan yang berubah menjadi aspek kesenian paling penting yang tumbuh dan berkembang ke aneka gaya atau aliran yang tidak pernah dicapai tulisan-tulisan lain. [Didin Sirojuddin AR, 2005].
Dalam konteks keindonesiaan, kaligrafi berkembang pesat pada era tahun 1980-an hingga saat ini. Berbagai pameran terus diadakan, seperti pameran MTQ, Pameran Wajah Islami, dan Pameran Istiqlal. Ini merupakan penanda kejayaan seni kaligrafi Islam Indonesia. Seni kaligrafi ini pun tak luput dari perhatian pemerintah. Salah-satunya yang dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran [LPTQ] yang turut berperan serta mengupayakan agar kaligrafi lebih membumi di Indonesia. [Nasaruddin Umar, 2007].
Di Indonesia, semakin hari karya kaligrafi kian marak menghiasi ruang-ruang publik, seperti mesjid dan musala. Pun tidak sedikit pula yang telah menjadi hiasan dinding di rumah-rumah biasa hingga tergolong mewah. Akibatnya, tidak sedikit pelukis beralih menjadi pelukis kaligrafi karena pasar karya lukisan kaligrafi dilihat sedikit lebih menjanjikan daripada karya lukis lain umumnya. Mungkin itu pula yang menjadi salah-satu sebab munculnya cabang lomba kaligrafi kontemporer dalam MTQ.
Musabaqah Khat Alquran ini pertamakali dilombakan dalam ajang MTQ di Indonesia pada MTQ Nasional XII tahun 1981 di Banda Aceh.
Dari pelaksanaan MTQ setiap tahunnya lahirlah puluhan bahkan ratusan khattat/khattatah [kaligrafer] yang mampu menguasai tujuh jenis tulisan indah Alquran, yaitu jenis naskhi, tsulusi, diwani, diwani jali, kufi, riq’i, dan farisi di Indonesia. Sebagian kaligrafer pun sudah memahami prinsip-prinsip disain yang mencakup kontras, balance, proporsi, ritme [irama] dan unity [kesatuan] dalam sebuah karya. Sehingga mereka pun sudah ada yang dalam istilah Nasaruddin Umar, menghasilkan karya yang sempurna dengan susunan huruf yang dinamis dan rapi yang diukur berdasarkan keindahan pembagian [husn tawzi’] dan aturan komposisi [ihkam al-tartib].
Lomba kaligrafi ini, di samping bertujuan melestarikan budaya tulis huruf Alquran dalam kehidupan masyarakat, juga diharapkan melahirkan penulis-penulis mushaf Alquran di Indonesia. Sehingga hendaknya setiap daerah mampu membuat mushaf Alquran dengan perisa dan citarasa masing-masing [local sense], dan tentu saja tidak menyalahi penulisan mushaf Alquran standar. Hal ini bisa dilihat dari munculnya berbagai mushaf Alquran di Indonesia dengan berbagai corak ragamnya, seperti Mushaf Sundawi, Mushaf Ibu Tien Suharto, Mushaf Istiqlal, Mushaf Cirebon, Mushaf Banten dan lain sebagainya.
Setelah dimasukkan dalam cabang lomba pada MTQ Nasional, daerah-daerah pun ikut pula meramaikan MTQ dengan cabang kaligrafi ini. Riau juga tak ketinggalan menaja cabang ini, mulai tingkat provinsi, kabupaten, pun ada pula yang sampai pada tingkat kecamatan.
Sejak itu, cabang MKQ atau Musabaqah Khat Alquran tak pernah alpa dalam setiap MTQ yang dilaksanakan di Riau. Kalau awalnya peserta hanya satu orang putra dan putri untuk semua cabang, kini telah menjadi satu orang putra-putri pada tiga cabang, yaitu satu orang putra dan satu putri pada cabang khat naskah, khat dekorasi dan khat hiasan mushaf. Dan berkemungkinan pada MTQ XXXI Provinsi Riau ke depan, muncul lagi lomba menulis indah Alquran kontemporer, lomba menulis atau melukis huruf Alquran secara bebas tanpa terkebat aturan baku [kaidah penulisan huruf Arab] yang selama ini dipegang kuat oleh para khattat.
Lomba menulis indah Alquran pada MTQ XXX Provinsi Riau tahun ini diharapkan mampu melahirkan khattat/khattatah yang menguasai kaidah penulisan Alquran yang benar [al-khat al-mansub] dan berestetika tinggi [al-mansub al-faiq]. Dan dari tangan mereka juga diharapkan nanti muncul Mushaf Riau atau Alquran corak Riau sebagai kado istimewa atau cendrahati yang manis bagi masyarakat Riau di masa depan. Kalau Provinsi muda seperti Banten saja mampu menghasilkan sebuah Mushaf Alquran bercorak Banten, kenapa Riau tidak? Bukankah Riau ini disebut [mengaku] negeri Islami, negeri Melayu yang identik dengan budaya Islam?
Mushaf Riau itu akan maujud bila Pemerintah Provinsi Riau melalui LPTQ Provinsi Riau, Kementerian Agama Provinsi Riau, Lembaga Adat Melayu Riau dan Dewan Kesenian Riau bisa bekerjasama secara intensif memanfaatkan jasa kaligrafer pemenang MTQ dan seniman perupa Riau yang memahami seluk-kelok ornamen Melayu Riau.
Kalau Pemerintah Riau dan lembaga-lembaga terkait mampu melahirkan sebuah mushaf Alquran bercitarasa Riau pada masa ini, maka pemimpin Riau hari ini telah membangun satu monumen pahala atau tugu abadi yang patut ditimang-timang dan dibanggakan anak negeri selama puluhan bahkan ratusan tahun ke depan. Dan insya Allah akan menuai pahala pula dari Allah ‘Azza wa Jalla selama mushaf itu terus dibaca umat manusia sampai tak terbilang zaman.
Perlu diingat, bahwa hidup yang paling bermakna dan bermartabat terjadi ketika seseorang mampu memahatkan sesuatu yang berarti bagi alam sekitar, menikamkan sejumlah jejak dan tapak kenangan yang patut diingat, disimak dan dijadikan contoh dan teladan oleh generasi di masa depan. Wallahu a’lam.
Terbit di Riau Pos, Rabu 23 November 2011
[1] Cendekiawan Muda Melayu, Salah-seorang Majelis Hakim Musabaqah Khat Alquran MTQ XXX Provinsi Riau
Senin, 21 November 2011
MKMQ
Griven H. Putera
MKMQ
Musabaqah Kitabati Madhmun al-Quran [MKMQ] merupakan cabang perlombaan yang dipertandingkan pada Musabaqah Tilawatil Quran. Untuk MTQ Provinsi Riau, cabang ini baru dilombakan pertamakali pada tahun 2010 yang lalu.
MKMQ ini artinya Lomba Menulis Isi Kandungan Alquran. Nama lain cabang ini adalah M2KQ [Musabaqah Menulis Kandungan Alquran]. Cabang musabaqah ini menitik-beratkan pada kemampuan menulis dengan mengeksplorasi isi kandungan Alquran.
Bila dilihat dari maksud dilaksanakannya lomba ini dalam peristiwa MTQ, menurut penggagasnya, Prof. DR. Asep S. Muhtadi, MA dari Bandung ketika dilaksanakan pelatihan dewan hakim MKMQ Provinsi Riau beberapa waktu lalu adalah ingin melahirkan para penulis muda Muslim yang akan menghiasi halaman media cetak di Indonesia.
Isi tulisan peserta MKMQ itu tentu saja tentang Islam yang mereka fahami dari kitab suci Alquran, Hadits Nabawi serta kaul ulama sepanjang masa. Tulisan itu bersifat ilmiah popular. Artinya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah tapi mudah dicerna, indah dan enak dibaca oleh semua kalangan. Tulisan ini sedikit berbeda dengan bahasa makalah yang biasa berlaku di perguruan tinggi.
Cita-cita melahirkan penulis muslim itu sungguh mulia. Dari tinjauan dakwah, usaha ini disebut juga dengan dakwah bi al-risalah atau dakwah melalui tulisan. Ada beberapa keuntungan dari dakwah jenis ini, pertama; materi dakwah akan mampu menjangkau audiens lebih luas, dan bisa lekat lama di minda pembaca atau mad’u [audiens]. Kedua, mau tidak mau, tanpa memandang dari segi agama, asal-muasal dan sebagainya, pembaca ‘dipaksa’ membaca pikiran keislaman itu karena tulisan itu sudah sampai ke tangan pembaca.
Lomba MKMQ ini sangat unik karena selama berlomba, peserta akan menulis pokok pikiran melalui mesin tik portable [tidak boleh menggunakan mesin tik electris, komputer ataupun laptop karena dikahawatirkan peserta akan menyimpan file tulisan di komputer atau laptop tersebut].
Tulisan yang diketik bersifat ilmiah, reflektif referensial yang mengacu pada ayat Alquran, kitab-kitab Tafsir, dan referensi keilmuan lainnya, seperti buku-buku ilmiah, jurnal dan majalah. Setiap peserta lomba juga tidak dibenarkan membawa alat komunikasi seperti handphone dan sejenisnya sewaktu berlomba karena dikahwatirkan bisa mengopy tulisan melalui internet.
Saran
Satu, upaya menggunakan mesin tik portable tersebut cukup bagus untuk menghindari copy paste tulisan, tapi kalau mau, sesungguhnya hal itu bisa diantisipasi dengan cara; panitia menyiapkan perangkat komputer atau laptop yang kosong dari file, dan setiap peserta tidak dibolehkan membawa HP, Plashdisc, cd dan alat menyimpan data sejenis selama lomba berlangsung. Karena mesin tik portable, untuk masa sekarang sudah dianggap ketinggalan.
Dua, kalau panitia dan tim penilai lalai, bisa saja, peserta menyimpan makalah yang siap pindaj ke tuts mesin tik.
Tiga, jika panitia dan tim penilai kurang jeli, buku-buku referensi bisa ditandai peserta dengan stabilo. Masing-masing paragraf yang akan dikutip tersebut bisa ditandai dan disusun dengan rapi, dan tinggal dituangkan ke kertas kosong, karena judul tulisan yang akan dilombakan sudah disediakan jauh-jauh hari sebelum musabaqah dilaksanakan. [jika ini terjadi, berarti semua isi tulisan murni kutipan, tak satupun orisinil hasil pemikiran sang peserta lomba].
Empat. Bisa saja tulisan dalam lomba itu sudah ditulis oleh seorang penulis kawakan, lalu dihapal dengan baik oleh peserta dan tinggal dituangkan di kertas kosong, sehingga nantinya seolah-olah tulisan yang diketik peserta selama lomba itu merupakan hasil pikiran sang peserta.
Lima, untuk ke depan, agak lebih idealnya peserta mesti diberikan judul sewaktu lomba, dan dilaksanakan di perpustakaan, sehingga kemampuan nalar keilmuan dan kepiawaian menulis mereka bisa teruji dengan sungguh-sungguh.
Akan tetapi semua yang dikhawatirkan tadi sesungguhnya bisa diuji ketika dilakukan presentasi bagi peserta finalis nantinya, apakah karya itu murni hasil pikiran peserta lomba. Kalau tulisan itu bukan karyanya sendiri, tentu saja peserta tersebut akan gagap dan sulit menjawab setiap pertanyaan tim penguji.
Sebagai sebuah upaya syiar Islam, [MKMQ] Musabaqah Menulis Isi Kandungan Alquran ini perlu mendapat sambutan dan sokongan yang baik dari semua pihak, karena paling kurang, satu atau dua orang peserta nantinya akan menjadi penulis keislaman yang akan menghiasi kolom-kolom media cetak tanah air. Wallahua’lam. Afwan…
Langganan:
Postingan (Atom)