Minggu, 20 November 2011

Ensiklopedia Sastra Riau


Griven H. Putera
Soal Ensiklopedia Sastra Riau
Kita gembira, pada Mei 2011 Ensiklopedia Sastra Riau terbitan Palagan Press kerjasama dengan Balai Bahasa Provinsi Riau, setebal 333+xiv halaman, editornya Agus Sri Danardana telah menambah khazanah tentang kesusteraan Riau. Buku ini memiliki beberapa kelebihan dan menyisakan sejumlah catatan yang mesti dilengkapi. Di antara kelebihan itu adalah pada sampul buku, yang merupakan hasil lukisan Adi Bagong; salah-seorang pelukis hebat yang kini ikut bertungkus lumus menguas kanfas beku senirupa Riau. Di samping itu, dibandingkan buku jenis  sama, seperti leksikon Sastra Riau yang sebelumnya ditulis Husnu Abadi dan M. Badri, terbitan UIR Press dan BKKI Riau 2009, buku ini pun terasa sedikit agak lebih lengkap. Pun, buku ini terasa istimewa pula karena sebelum diluncurkan dan dibentangkan ke publik, ternyata terlebih dahulu ditelaah oleh pembaca kritis; ini menurut Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau sekaligus editor yang tertuang dalam sekapur sirih Kepala Balai Bahasa pada halaman ii, dan dalam kata pengantar editor pada halaman v. Kalau ini memang benar, langkah ini sesungguhnya merupakan langkah baik dan sedikit menggembirakan dalam soal penerbitan buku di Riau. Tapi sudahkah benar-benar dua orang sastrawan ini melakukan pembacaan kritis seperti yang dituturkan Kepala Balai Bahasa yang juga editor buku ini? Untuk saat ini, buku ini mungkin punya arti sangat penting bila ingin melihat peta panjang sastra Riau yang dimulai dari periode Suman Hs. Tapi untuk mendapatkan informasi tentang tumbuh, berkembang dan majunya kesusastraan di Riau beserta segala ikhwalnya secara pepat dan sempurna [komprehensif] tentulah masih menyisakan sejumlah perbaikan dan masukan dari berbagai pihak. Tulisan saya ini hendak mengabulkan hajat editor yang tertera pada pengantar buku ini pada halaman vii-viii, “…segala masukan: kritik dan saran sangat diharapkan demi perbaikan Ensiklopedia  Sastra Riau ini.” Lagipula, membincangkan ikhwal kesusastraan Riau memang menggairahkan karena kesusastraan adalah sesuatu yang sangat akrab dengan kehidupan orang Melayu Riau sepanjang masa. Konon, dari bidang inilah nama Riau dikenal secara nasional bahkan internasional melalui sederet pujangganya. Maka tak salah kalau ada orang menyebut negeri ini sebagai negeri pujangga atau pun negeri shahibul kitab. Pun, tidak hanya di kalangan kaum terpelajar dalam dunia kebudayaan dan kesenian Melayu saja yang berguli-gelimang dengan bidang ini, bahkan telah jauh merambah dalam kehidupan hari-hari masyarakat biasa. Orang merasa hilang denyut geletar sebuah acara kalau tak ada petatah-petitih, pantun-berpantun dan syair-bersyair di dalamnya.
Untuk itu, menurut hemat dan kimat saya, sejumlah kerja yang masih terbengkalai dalam buku Ensiklopedia Sastra Riau ini adalah: Pertama, ada beberapa nama sastrawan, nama lembaga kebudayaan dan media cetak yang pernah ikut mengarungi pasang surut kesusastraan di Riau seperti tercecer atau mungkin sengaja tidak dimasukkan oleh editor buku ini, dan pada edisi revisi nanti perlu dijelaskan alasan-alasan kongkrit kenapa sejumlah nama sastrawan, lembaga kebudayaan dan media cetak ini terlupakan, atau minimal pada acara peluncuran resmi buku ini nanti perlu diutarakan tentang kenapa terjadi perumpangan nama-nama tersebut. Untuk sementara, saya mencatat paling kurang terdapat beberapa sastrawan, kritikus sastra Riau dan sejumlah nama lembaga kebudayaan serta media cetak budaya yang hilang dalam buku ini. Saya yakin, editor punya alasan tersendiri untuk itu. Tapi sebagai sebuah data tambahan atau data bandingan perlu juga disampaikan di sini. Menurut hemat saya, sastrawan Riau yang gaib dalam buku ini adalah Armawi KH, (Armawi KH malah lebih dulu dan dulu lagi bersama Edi Ruslan Pe Amanriza, Husnu Abadi dan kawan-kawan lain malah telah menerbitkan kumpulan puisi mereka, dan Armawi KH sampai kini tetap dipercaya menjadi Pimpinan Umum majalah budaya Sagang), Leon Agusta, Haji Suhaimi, Tabrani Rab, Wise Marwin, Dahmiros, Dey Nazir Alwi, Mukhtar Ahmad, Abdul Jalil, Mahdini, Hasanuddin WS, Indra Wedhasmara, Muchid Albintani, Eddy Mohd. Yatim, Syaukani Alkarim, Hafney Maulana, Eryanto Hadi, M. Nasir (M. Nasir pernah beberapa kali memenangkan lomba menulis cerita di Pusat Perbukuan Nasional untuk kategori SLTP, beliau pun pernah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul Orang Aneh, Mahkota Riau, 2002), Nofiandri, Syahrul Tombang, Darwis Muhammad Saleh (Darwis pernah memenangkan Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau kategori Cerpen), Raja Rafilla Irawan, Syaiful Bahri (pernah beberapa kali memenangkan lomba penulisan puisi pada Laman Cipta Sastra DKR), Dey Nazir Alwi/Tengku Nazir, Tabrani Rab (Tabrani menurut tim riset majalah Budaya Sagang pernah beberapa kali menjadi pemakalah tentang kesusasteran Melayu untuk tingkat internasional, lihat majalah Sagang edisi khusus nomor 85/VII Oktober 2005, halaman 203), Rivaie Taloet, Verrin Ys (cerpen Verrin Ys beberapa kali dimuat dalam kumpulan cerita pendek pilihan Riau Pos, seperti pada buku Terbang Malam dan Jalan Pulang), Ramli Usman dan Derichard H Putra, Fariz Ihsan Putra. Dari semua nama itu, ada hal yang terasa amat ganjil kenapa nama mereka sampai rumpang, yaitu Leon Agusta [LA], Syaukani Alkarim [SAK] dan Hafney Maulana [HM]. Tiga nama ini hampir masuk dalam beberapa buku besar tentang kesusastraan di Indonesia, seperti Buku Pintar Sastra Indonesia karya Pamusuk Eneste [PE], Ensiklopedi sastra Indonesia tulisan Hasanuddin WS [Hws], dkk  yang juga katanya menjadi pustaka acuan dari buku ini. LA terdapat pada halaman 133 dalam buku PE, dan halaman 464-465 di buku HWS. Sedang SAK ada pada halaman 237 buku PE, dan halaman 783 buku HWS. Sementara HM tertera pada halaman 89 buku PE, dan halaman 290-291 buku HWS. Pertanyaannya, apakah dengan tidak ditemukannya nama tiga orang sastrawan ini disebabkan karena tidak masuk dalam lima kriteria yang dikemukakan oleh editor buku ini dalam kata pengantarnya? [lihat halaman v]. Apakah tiga orang ini tidak; (1) Lahir, besar, atau tumbuh di Riau; (2) memiliki karya (sastra) yang sudah dipublikasikan; (3) memiliki reputasi (setidaknya di Provinsi Riau); (4) memiliki pengaruh; dan (5) dikenal luas oleh masyarakat. Betulkah karena mereka bertiga dan sejumlah nama lainnya tak termasuk dalam lima kategori di atas?
Kedua, yang juga membuat terasa amat ganjil dan mencengangkan dalam buku ini adalah tentang rumpangnya Leon Agusta, Hafney Maulana dan Syaukani Alkarim dalam bacaan dua orang pembaca kritis yang ditunjuk oleh Balai Bahasa, yaitu Hary B. Kori’un dan Marhalim Zaini. Untuk kasus Syaukani, setahu saya, sebelum sahabat saya Marhalim menjadi pimpinan redaksi di majalah berdaulat, Syaukani Alkarim malah menjadi ketua pengelola majalah tersebut. Bahkan, secara eksplisit, Marhalim dan Syaukani malah pernah satu biduk mengelola Majalah Berdaulat pada periode-periode akhir. Pertanyaannya, apakah Syaukani sudah pensiun jadi sastrawan karena akhir-akhir ini tak lagi tampak karya-karyanya menghiasi halaman-halaman budaya media di Riau sehingga tak bisa lagi masuk dalam buku ini? Kalau jawabnya ya, apakah itu masuk kategori untuk dibuang dalam buku ini? Dan, apakah setelah kreatifitas terhenti, otomatis profesinya sebagai sastrawan ikut mati? Atau? Untuk itulah saya bertanya di awal-awal tulisan ini, benarkah draft buku ini betul-betul telah dibaca secara kritis lebih dahulu oleh pembaca ahli yang ditunjuk oleh Balai Bahasa Provinsi Riau sebelum dicetak-terbit?
Ketiga, selain itu, pada kata sekapur sirihnya, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau menyebut tiga nama sebagai sampel sastrawan, yaitu Tabrani Rab, Tarzan dan Dey Nazir Alwi (Tengku Nazir), tapi dalam buku ini, malah ketiga nama orang ini tak ditemukan biodata mereka.
Keempat, kekeliruan yang juga fatal terdapat pada biodata sang sastrawan, salah-satu contohnya pada kasus Al Azhar dan Alang Rizal. Dalam buku ini ditulis bahwa Al Azhar lahir pada 17 Agustus 1961 (hal. 16), sedangkan Alang Rizal lahir pada 5 Juli 1960 (hal. 18). Bukankah data ini menjelaskan bahwa Al Azhar lebih muda daripada Alang Rizal? Setahu saya, Al Azhar itu adalah abang kandung Alang Rizal. Untuk kasus ini, bila mau diteliti lebih detil lagi, kesalahan serupa mungkin banyak juga ditemukan pada biodata sastrawan lain dalam buku yang dirasa amat penting ini.
Kelima, sedangkan sejumlah lembaga yang belum termuat itu adalah Yayasan Sempadan Tamadun, Yayasan Kata, P2BKM Unri, Yayasan Khazanah, Pucuk Rebung, Pucuk Jatuh, Mahkota Riau, Daulat Riau, Majalah Dawat, Majalah Solarium, Tabloid Gagasan.
Keenam, selain itu, jika suatu saat nanti buku ini direvisi, alangkah lebih eloknya disertakan pula karya masing-masing sastrawan. Hal ini perlu dan dirasa amat penting karena pada buku ini ada sebagian karya sastrawan yang dimuat, sedangkan yang lainnya tidak dimuat. Hal ini dilakukan, di samping untuk data lebih berimbang dan lengkap, karya itu pun bisa pula menjadi tolok ukur kenapa nama sang sastrawan bisa masuk dalam buku ini.    
Dari sedikit kubakan di atas, yang jelas, dosa buku ini masih tertanggungkan, belum sampai tak tertanggungkan atau tak terampuni seperti yang diakui sendiri oleh pengantar editor buku ini (halaman vii). Kesalahan itu masih bisa diampuni tapi dengan syarat, editor dan penerbit mau merevisi buku ini kembali, dan paling kurang, penulis dan penerbit mau menerima masukan tulisan ini, atau paling kurang lagi, mau menjawab sejumlah pertanyaan yang mengemuka dalam tulisan ini dengan  jujur dan jernih. Dan semoga, kata-kata dalam puisi Syaukani Alkarim yang berjudul “Senandung Tanah Impian” yang berbunyi, “…kehamilan panjang kita melahirkan anak-anak cacat..” rupanya benar, bahwa kehamilan panjang peradaban yang kita tunggu-tunggu, kita nanti-nanti, yang hendak kita jemput selama ini ternyata hanya melahirkan generasi-generasi yang cacat… ya, dunia politik kita, dunia kebudayaan dan kesenian, dunia kampus, dunia media, dunia sosial-ekonomi, dunia birokrasi pemerintahan, dunia keagamaan; dunia kreatifitas macam-macam kita di Riau hari ini; semuanya semakin kerut-merut; semakin penuh cacat-cela sahaja. Ternyata kegemilangan peradaban yang kita nanti-nanti, yang diperjuangkan sekian masa secara mati-matian selama ini hanya berona seperti cahaya bulan jatuh ke air ketika pagi merekah.



0 komentar:

Poskan Komentar