Senin, 21 November 2011

MKMQ


Griven H. Putera
MKMQ
Musabaqah Kitabati Madhmun al-Quran [MKMQ] merupakan cabang perlombaan yang dipertandingkan pada Musabaqah Tilawatil Quran. Untuk MTQ Provinsi Riau, cabang ini baru dilombakan pertamakali pada tahun 2010 yang lalu.
MKMQ ini artinya Lomba Menulis Isi Kandungan Alquran. Nama lain cabang ini adalah M2KQ [Musabaqah Menulis Kandungan Alquran]. Cabang musabaqah ini menitik-beratkan pada kemampuan menulis dengan mengeksplorasi isi kandungan Alquran.
Bila dilihat dari maksud dilaksanakannya lomba ini dalam peristiwa MTQ, menurut penggagasnya, Prof. DR. Asep S. Muhtadi, MA dari Bandung ketika dilaksanakan pelatihan dewan hakim MKMQ Provinsi Riau beberapa waktu lalu adalah ingin melahirkan para penulis muda Muslim yang akan menghiasi halaman media cetak di Indonesia.
Isi tulisan peserta MKMQ itu tentu saja tentang Islam yang mereka fahami dari kitab suci Alquran, Hadits Nabawi serta kaul ulama sepanjang masa. Tulisan itu bersifat ilmiah popular. Artinya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah tapi mudah dicerna, indah dan enak dibaca oleh semua kalangan. Tulisan ini sedikit berbeda dengan bahasa makalah yang biasa berlaku di perguruan tinggi.
Cita-cita melahirkan penulis muslim itu sungguh mulia. Dari tinjauan dakwah, usaha ini disebut juga dengan dakwah bi al-risalah atau dakwah melalui tulisan. Ada beberapa keuntungan dari dakwah jenis ini, pertama; materi dakwah akan mampu menjangkau audiens lebih luas, dan bisa lekat lama di minda pembaca atau mad’u [audiens]. Kedua, mau tidak mau, tanpa memandang dari segi agama, asal-muasal dan sebagainya, pembaca ‘dipaksa’ membaca pikiran keislaman itu karena tulisan itu sudah sampai ke tangan pembaca.
Lomba MKMQ ini sangat unik karena selama berlomba, peserta akan menulis pokok pikiran melalui mesin tik portable [tidak boleh menggunakan mesin tik electris, komputer ataupun laptop karena dikahawatirkan peserta akan menyimpan file tulisan di komputer atau laptop tersebut].
Tulisan yang diketik bersifat ilmiah, reflektif referensial yang mengacu pada ayat Alquran, kitab-kitab Tafsir, dan referensi keilmuan lainnya, seperti buku-buku ilmiah, jurnal dan majalah.  Setiap peserta lomba juga tidak dibenarkan membawa alat komunikasi seperti handphone dan sejenisnya sewaktu berlomba karena dikahwatirkan bisa mengopy tulisan melalui internet.
Saran
Satu, upaya menggunakan mesin tik portable tersebut cukup bagus untuk menghindari copy paste tulisan, tapi kalau mau, sesungguhnya hal itu bisa diantisipasi dengan cara; panitia menyiapkan perangkat komputer atau laptop yang kosong dari file, dan setiap peserta tidak dibolehkan membawa HP, Plashdisc, cd dan alat menyimpan data sejenis selama lomba berlangsung. Karena mesin tik portable, untuk masa sekarang sudah dianggap ketinggalan.
Dua, kalau panitia dan tim penilai lalai, bisa saja, peserta menyimpan makalah yang siap pindaj ke tuts mesin tik.
Tiga, jika panitia dan tim penilai kurang jeli, buku-buku referensi bisa ditandai peserta dengan stabilo. Masing-masing paragraf yang akan dikutip tersebut bisa ditandai dan disusun dengan rapi, dan tinggal dituangkan ke kertas kosong, karena judul tulisan yang akan dilombakan sudah disediakan jauh-jauh hari sebelum musabaqah dilaksanakan. [jika ini terjadi, berarti semua isi tulisan murni kutipan, tak satupun orisinil hasil pemikiran sang peserta lomba].
Empat. Bisa saja tulisan dalam lomba itu sudah ditulis oleh seorang penulis kawakan, lalu dihapal dengan baik oleh peserta dan tinggal dituangkan di kertas kosong, sehingga nantinya seolah-olah tulisan yang diketik peserta selama lomba itu merupakan hasil pikiran sang peserta.
Lima, untuk ke depan, agak lebih idealnya peserta mesti diberikan judul sewaktu lomba, dan dilaksanakan di perpustakaan, sehingga kemampuan nalar keilmuan dan kepiawaian menulis mereka bisa teruji dengan sungguh-sungguh.
Akan tetapi semua yang dikhawatirkan tadi sesungguhnya bisa diuji ketika dilakukan presentasi bagi peserta finalis nantinya, apakah karya itu murni hasil pikiran peserta lomba. Kalau tulisan itu bukan karyanya sendiri, tentu saja peserta tersebut akan gagap dan sulit menjawab setiap pertanyaan tim penguji.
Sebagai sebuah upaya syiar Islam, [MKMQ] Musabaqah Menulis Isi Kandungan Alquran ini perlu mendapat sambutan dan sokongan yang baik dari semua pihak, karena paling kurang, satu atau dua orang peserta nantinya akan menjadi penulis keislaman yang akan menghiasi kolom-kolom media cetak tanah air. Wallahua’lam. Afwan… 



   

0 komentar:

Poskan Komentar