Griven H. Putera
Alquran di Tengah Danau
Danau itu terletak di tengah kota. Airnya tenang bagai dituang di dalam mangkuk made in China.
Sebagian danau itu dikelilingi rumah penduduk dan pohonan kayu-kayu tua nan rimbun. Orang-orang menyebut pohon yang tumbuh berderet bagai ditanam itu adalah kayu beringin. Danau nan cantik memesona itu, kata orang bernama Raja. Nama kota yang menerima anugerah taman air alami percikan tanah Surgawi di tengah hiruk-pikuk lalu-lalang manusia itu bernama Rengat. Rengat, sebuah kota tua Melayu tempat pernah bermastautinnya beberapa Sultan Melayu di masa lampau.
Danau Raja, kalau tak ada aral, mulai 26 November hingga 04 Desember 2011 ini, danau nan cantik itu akan menjadi saksi sejarah bahwa seni Alquran akan mengelopak dan mengharu-birukan tanah itu. Siang dan malam seolah tanpa henti. Hujan dan panas tak sudah-sudah. Seni Alquran yang akan bergemuruh itu berupa lomba-lomba, mulai Musabaqah tilawah Alquran [lomba baca Alquran], Musabaqah Qiraat al-Sab’ah [lomba membaca tujuh jenis bacaan Alquran], Musabaqah Tahfiz al-Quran [lomba menghafal Aquran], Musabaqah Fahm Alquran [cerdas cermat Alquran], Musabaqah Kitabati Madhmun al-Quran [lomba menulis isi kandungan Alquran], Musabaqah Khat Alquran [lomba kaligrafi AlQuran], dan Musabaqah Syarh Alquran [lomba pidato isi kandungan Alquran].
Hampir saban tahun perlombaan seni itu dilaksanakan di Riau, harapan terus saja mengalir supaya helat Alquran itu menjadi pemangkin semangat anak-anak tempatan mencintai Alquran dengan sungguh-sungguh, plus mampu pula menguasai cabang-cabang seni yang diperlombakan tersebut. Sehingga Melayu-Islam tetap terlihat sepanjang masa. Hidup bahagia dunia dan akhirat.
Dalam sejarah MTQ di Riau, baru sekali inilah, lomba seni Aquran di buat di tengah danau. Sebuah astaka terapung.
Sebagai sebuah upaya yang unik dan “nyentrik”, penempatan danau Raja sebagai astaka utama MTQ ini perlu mendapat tepuk-tangan. Tapi ada yang perlu diingat dan diperhatikan panitia secara serius, kalau penonton dan penggembira tidak hati-hati, danau nan cantik ini akan memakan korban. Khawatir penonton, terutama kanak-kanak akan tercebur ke danau. Seperti indahnya sekuntum mawar, setiap pemetik kuntum mestilah berhati-hati pada duri yang menyembul di sekelilingnya. Memang, tak ada mawar yang tak cantik dan memesona, tapi kata orang bijak, tak ada mawar yang tak berduri.
Kembali kepada MTQ, usaha LPTQ Riau menaja helat MTQ ini saban tahun perlu mendapat aplaus dari seluruh masyarakat Riau karena Alquran dan masyarakat Riau itu sesungguhnya bagai ikan dengan air. Ikan tak bisa hidup kalau tak ada air. Manusia negeri Melayu tak bisa eksis dan mendapat tempat di hati makhluk dan derajat mulia di mata Tuhan kalau jauh dari Alquran. Apalagi masyarakat Riau telah menyebut diri sebagai makhluk yang berbudaya Melayu. Melayu yang diidentikkan dengan Islam. Kitab suci umat Islam itu adalah Alquran.
Terbit di Koran Riau, Sabtu 26 November 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar