Griven H. Putera
Pelayan
“Sayyid al-qoumi khodimuhum”; Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaum itu.
Kata keramat dari Nabi SAW. tersebut punya denyut dahsyat bagi manusia dan kemanusiaan. ‘Khodim’ itu merupakan kata kunci manusia yang ingin memahami dirinya.
Kata lain dari ‘khodim’ dalam Bahasa Arab’ adalah ‘abdun’ yang berarti budak atau hamba-sahaya. Selain itu juga ada kata ‘ghulam’ tapi tentu saja memiliki maksud dan siratan makna hakiki yang berbeda. Mungkin ada lagi kata lain. Itu bisa dilihat dalam kamus-kamus besar Bahasa Arab yang tersohor, seperti kamus Al-Munjid, kamus Almunawwir atau pun Al-Maurid dan lain-lain.
Orang banyak salah mengartikan nilai sesungguhnya dari kata ‘khodim’, ‘abdun’, dan ‘ghulam’ itu sehingga kata itu menjadi milik orang rendah dan berkonotasi kurang sedap didengar dan dirasa. Sesuatu yang seperti dilecehkan. Selama ini ada anggapan bahwa sesuatu yang melayani dianggap budak, sesuatu yang memberi pelayanan lebih baik dan lebih sempurna kepada orang lain disebut pembantu atau kuli. Akibatnya, semua orang ingin menjadi ‘raja’ dan berprilaku menjadi ‘raja’ bahkan ‘maha raja’ dalam arti negatif. Ingin menjadi penguasa mutlak. Menguasai manusia dan alam raya sesedap-sedap hati dan nafsu belaka. Bahkan ingin pula menguasai Tuhan. Ya, melawan dan melanggar ketentuan dan kehendak Tuhan. Tak mau menerima ketentuan dan aturan Tuhan. Misalnya, hari ini mewabah virus pendapat bahwa sistem yang dibuat oleh manusia dianggap lebih baik daripada yang diturunkan Tuhan. Akibatnya manusia menganggap ia berkuasa penuh di dunia ini. Padahal raja atau penguasa hakiki itu hanya Tuhan. Dan Tuhan pun ternyata pelayan. Kata Ibn Arabi dalam puisinya:
“Dia memujiku maka aku memuji- Nya. Dan Dia menyembahku maka aku menyembah-Nya”
Puisi itu sering dikutip orang untuk menunjukkan kekafiran Ibn Arabi, Padahal, menurut Jalaluddin Rakhmat, puisi ini berarti; “Tuhan, Kau mengabdi kepadaku, aku pun mengabdi kepada-Mu.” Karena besarnya kasih sayang-Nya, maka sepanjang hidup kita, Dia mengabdi kepada kita, melayani seluruh keperluan kita. Seakan-akan Dia tidak punya hamba selain kita.
Dalam salah-satu doanya, Imam Ali Zainal Abidin pun berkata, “Ya Allah, setiap hari Engkau berkhidmat kepadaku. Seakan-akan tiada hamba yang lain selain aku. Padahal setiap hari pula para malaikat mengantarkan kemaksiatanku kepada-Mu. Seakan-akan aku punya Tuhan selain Engkau.”
Tuhan ternyata pelayan karena sifat Tuhan memang melayani. Bahkan Tuhan itu adalah pelayan yang maha sempurna. Apa yang tak dilayani Tuhan dalam hidup ini? Tuhanlah pelayan yang paling kamil, yang paling paripurna lagi tammah. Apa yang terlepas dari layanan Tuhan? Contoh kecil, ketika manusia tidur, siapa yang menjaga lubang telinga, hidung dan matanya dari kemasukan semut atau binatang lain? Siapakah pelayan yang lebih prima selain Tuhan?
Oleh karena manusia ini adalah khalifah Allah di bumi [khalifatullah fi al-ardh], maka menjadi pelayan itu adalah kodrat manusia juga. Kodrat kesejatian manusia adalah pelayan bagi alam semesta; semua orang diminta jadi pelayan. Kata Nabi lagi, setiap manusia pemimpin [pelayan] dan setiap pemimpin akan diminta tanggung jawabnya. Suami pelayan bagi istrinya, istri pelayan bagi suaminya. Ulama pelayan bagi umatnya. Pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya. Nabi dan Rasul pelayan bagi umatnya. Semua orang pelayan.
Pertanyaannya, siapakah di antara manusia yang mau menjadi khalifatullah fi al-ardh; pelayan Tuhan dan pelayan alam semesta yang sempurna? Yang mau mengabdikan dirinya bagi Allah SWT. dan orang lain serta bagi makhluk alam raya tanpa merasa rendah?
Rendah. Bukankah sesuatu yang maha berarti itu adalah sesuatu yang jauh ke bawah atau rendah tempatnya? Air saja misalnya, bukankah semakin rendah tempatnya, semakin dalam tempatnya, semakin jernih ia? Baitullah saja berada di lembah, terletak di antara bukit-bukit yang tinggi menjulang. Apakah karena letaknya di bawah atau rendah itu ia menjadi hina dina? Tidakkan? Justru ia tempat manusia mengetahui siapa dirinya dan siapa Tuhannya.
Pelayan itu rendah di mata orang yang bebal tapi tinggi marwahnya di hati orang yang punya mata hati. Maka selalulah merendah supaya ia tinggi di mata Tuhan. Maka selalulah berusaha menjadi ‘abdullah. Astaghfirullah. Wallahu a’lam.
0 komentar:
Poskan Komentar