Minggu, 20 November 2011

Bangsa Kuda


Griven H. Putera
Bangsa Kuda?
Sebuah novel bacaan anak karangan Dwianto Setyawan terbitan Balai Pustaka pertamakali tahun 1974 berjudul si Rejeki mengingatkan beta pada laku rektor UI yang memberi gelar Honoris Causa [HC] kepada Raja Arab Saudi beberapa waktu lalu. Novel ini bercerita tentang nasib seekor kuda yang diberi nama si Rejeki oleh tuannya Pak Sarpii. Kuda ini merasa diperlakukan tidak layak [maha budak] oleh Pak Sarpii sehingga hatinya selalu berontak tapi tak berdaya. Suatu hari ketika Pak Sarpii bertamu ke rumah temannya di kota, saat itu Jeki, panggilan Rejeki dapat istirahat di bawah pokok jambu di depan rumah. Saat terkantuk-kantuk karena letih dan delus angin sepoi, tiba-tiba seekor burung bernama Lurik mendatanginya, dan terjadilah dialog-dialog yang menyentuh, akhirnya Lurik berjanji akan mengadukan nasib Jeki kepada raja kuda yang tinggal di hutan. Dan pada hari berikutnya, Dinar; manusia utusan raja kuda yang mengerti bahasa binatang tiba ke  hadapan Jeki, sekaligus melepaskan ikatan pedati. Kini bebaslah Jeki. Mereka lalu memasuki hutan dan bertemu sang raja kuda. Mulai hari itu, Jeki pun menikmati kemerdekaan di alam bebas. Mengunyah rerumputan hijau, menghirup udara terbuka dan minum air jernih yang mengalir dari kaki gunung. Jeki mulai berkawan dengan kuda lain, termasuk dengan si Pincang, seekor kuda tua bekas kuda perang. Karena pernah sama dijadikan budak oleh manusia, pertemanan dua kuda ini sangat erat. Ternyata  tidak semua kuda berlaku baik, si Kuning misalnya, sejak Jeki berkumpul, kuda muda yang gagah ini selalu menertawakan Jeki setiap mantan kuda pedati itu menceritakan kelaliman manusia. Dengan angkuh ia menyindir Jeki, bahwa kuda lemah dan bodohlah yang bisa diperbudak manusia. Hingga suatu hari, Kuning mengajak Jeki berpacu lari untuk membuktikan kelemahan dan kebodohan Jeki. Berdasarkan nasehat Pincang yang hendak memberi pelajaran kepada kuda muda yang angkuh itu, Jeki menyanggupinya. Dan benar, si Kuning kalah. Di akhir laga, Jeki berkata, “Kuning, kamu baru tahu indahnya kebebasan dan kemerdekaan setelah engkau menderita!”
Raja Kuda telah mengirim surat yang berisi pembebasan bangsa kuda, minimal pengurangan penyiksaan bagi kuda yang jasanya dipakai bangsa Manusia kepada Kerajaan Adil Adila yang saat itu dipimpin oleh Raja Adil Bijaka. Namun surat tersebut belum juga dibalas oleh Raja Adil Bijaka. Beruntung, entah berapa lama kemudian, Raja Adil Bijaka yang memimpin negeri Adil Adila  ditantang pacu kuda oleh raja negeri Karangan Tengah yang bernama Murkabang yang memiliki Sambar Kilat; kuda pacuan tercepat selama ini. Konon, selama berpacu, belum ada seekor kuda dari negeri manapun yang menang melawannya. Taruhannya besar, siapa kalah akan menyerahkan separuh negerinya kepada si pemenang.  Akhirnya Raja Adil Bijaka memanggil Raja Kuda untuk menyelesaikan masalah yang rumit itu. Raja Adil Bijaka mengatakan, tuntutan bangsa kuda akan dikabulkan jika bisa memenangkan pertandingan esok. Dinar, Lurik dan Pincang serta Raja Kuda akhirnya memutuskan bahwa tantangan itu harus dihadapi. Dan utusan mereka di antaranya adalah Jeki, Kuning dan beberapa ekor kuda peliharaan istana. Jeki tampak risau, untunglah Dinar dan Pincang meyakinkannya bahwa ia akan menang. Yang dirisaukan Jeki bukan malu karena kalah tanding tapi nasib bangsa kuda. Jika ia kalah, maka kemerdekaan bangsa kuda atas perlakuan zalim manusia hanya menjadi mimpi belaka. Mereka akan tersiksa sepanjang masa. Sehari sebelum pertandingan, karena kesombongannya, si Kuning tertangkap pemburu sehingga kekuatan kuda kerajaan Adil Adila berkurang. Raja kuda dan beberapa ekor kuda yang lain pusing tujuh keliling.
Walau tanpa si Kuning akhirnya perpacuan dimulai. Pacu dibagi beberapa etape. Di partai puncak, Rejeki dan Sambar Kilat bertemu. Saat hendak menuju gelanggang, Rejeki dan Sambar Kilat berjalan seiring, terjadilah dialog, “Apa yang mendorongmu ikut dalam pacuan ini?” tanya Rejeki tiba-tiba. “Pertanyaan yang aneh sekali. Aku ikut dalam perlombaan ini karena aku seekor kuda pacuan. Aku dilahirkan sebagai kuda biasa. Kemudian aku berhasil sebagai kuda juara dengan mengalahkan semua kuda yang mencoba mengadu kekuatan dengan aku. Jangan kau tanyakan apa yang mendorongku. Tetapi tanyakanlah kuda mana saja yang pernah kukalahkan…..” kata Sambar Kilat dengan nada tegas. “Rupanya tujuan kita berlain-lainan,” kata Rejeki. “Kau berlomba untuk merebut kemenangan saja, bukan?”. “Tentu saja begitu. Pertama, aku harus menang dalam tiap perlombaan. Kedua, aku harus berusaha agar namaku menjadi lebih tenar lagi!”. “O, kalau begitu kau berjuang semata-mata hendak memamerkan nama dan dirimu sendiri!”. “Hmm. Apakah kau berlomba tidak untuk mencapai kemenangan?”. “Memang. Kemenangan itu tidak untuk diriku sendiri. Sebenarnya aku ini pejuang di luar kemauanku.”. “Betul-betul aku tak mengerti maksudmu sahabat!”. “Nasib bangsa kuda tergantung pada diriku jua, Kawan. Jika aku menang nanti, tidaklah berarti kemangan itu menjadi milikku sendiri. Dasar dan tujuan kita memang amat berbeda. Ya, seperti bumi dan langit. “Kau memang betul-betul kuda yang amat aneh, sahabat!”. “Tidak, kawan. Aku bukan kuda yang aneh! Kalau kau pernah merasakan penderitaan tentu tak akan kau katakan begitu!” selama dialog berlangsung, Dinar, manusia joki Rejeki yang mengerti bahasa kuda menyimak dialog tersebut, lalu ia berkata, “Sungguh pembicaraan yang amat menarik, Jeki.”
Akhirnya pacu dimenangkan Jeki. Tapi rupanya pengarang mempermainkan pembaca, peristiwa tadi ternyata hanya mimpi Rejeki yang menunggu Pak Sarpii yang sedang bertamu. Walau pun begitu, tapi masih ada untungnya juga, Rejeki diserahkan Pak Sarpii kepada anak temannya itu, yang menyayangi kuda. Rejeki pun tidak lagi menjadi kuda pedati tapi kuda peliharaan biasa.
Novel ini membawa banyak pesan nilai pada pembaca tapi pada saujana sekali ini hanya sedikit menilik posisi Dinar; manusia intelektual itu saja. Beta hendak menyamakan Dinar dengan Rektor UI. Tapi beta kecewa berat kepada tuan rektor atas tindakan ceroboh tersebut bahkan menjadi si Jeki, kuda pedati pun sepertinya ia belum layak. Semestinya, ketika perlakuan bangsa asing yang lalim kepada anak bangsanya, guru moral, tokoh intelektual inilah yang akan membela atau minimal memfasilitasi suara anti kelaliman itu, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Di saat anak negeri menjerit pilu karena dijadikan budak oleh bangsa lain, termasuk bangsa Saudi, malah sang intelektual, sang penyuara kebenaran dan keadilan itu memberikan penghargaan kepada Raja yang rakyatnya selalu memperbudak anak bangsa tuan rektor. Apakah laku kurang terpuji rektor UI ini adalah sampel dari semua akademisi Perguruan Tinggi di negeri ini? Kalau asumsi ini benar, maka sungguh, hari ini ternyata kuda lebih humanistis dan lebih patut dihormati daripada manusia. Di negeri ini, kalau manusia di universitas saja sudah begini, bagaimana dengan manusia yang berprofesi lain? Bagaimana dengan politisi, pejabat, konglomerat, budayawan, sastrawan, agamawan, wartawan dan sejumlah manusia berprofesi lainnya? Atau pada saat ini, penjahit sepatu, pencari kayu api, penarik beca, tukang ojek atau TKI sendiri yang masih bertahan sebagai manusia agaknya? Atau sebagian mereka juga sama? Akh, akhirnya, mungkin di Indonesia kita hari ini, menjadi bangsa kuda jauh lebih mulia dan bermartabat daripada jadi bangsa manusia!       

0 komentar:

Poskan Komentar