Minggu, 20 November 2011

Patung-patung Latah


Griven H. Putera
 Patung-patung Latah
Orang-orang di Riau ini semakin hari semakin latah. Terutama orang Pekanbaru. Untuk menunjukkan citra diri, mereka buat simbol-simbol berupa patung-patung, yang katanya itu merupakan identitas Melayu. Dan celakanya, mereka tak mengerti benar apa makna hakiki dari simbol yang dibuat itu karena pemahaman tersebut diperoleh hanya secara sambil-lalu dari ceramah atau tulisan para budayawan Melayu. Nilai Melayu yang dangkal yang mereka perdapat melalui acara seremonial main-main yang diinterpretasi sesedap-sedap perutnya tersebut, mereka upayakan untuk meninggikan citra Melayu yang selama ini diperjuangkan kaum intelektual Melayu secara sungguh-sungguh itu malah merendahkan Melayu itu sendiri.
Hari ini orang Riau, terutama para pembuat kebijakan yang tinggal di Pekanbaru sibuk membuat patung, katanya itu bernama monumen. Saya tak tahu apa beda monumen dengan patung. Setahu saya, munumen dibuat untuk mengingat sesuatu yang maha penting, dan menyampaikan sejumlah pesan supaya sesuatu yang penting itu bisa diambil pelajaran yang juga penting bagi kelangsungan generasi mereka di kemudian hari. Kini patung-patung berserak di Pekanbaru, mulai patung songket, patung tepak, patung ikan, patung zapin, mungkin patung bahasa, dan entah apa lagi. Dan yang paling menyengat dan hangat dibincangkan orang hari ini adalah tentang patung zapin yang menelan duit rakyat hampir 5 milyar. Patung yang sangat mahal itu konon bakal menggantikan posisi patung pesawat udara di depan kantor gubernur Riau. Sebelum membahas patung zapin itu, saya hendak memposisikan kembali patung pesawat itu bagi saya semasa kecil dahulu. Saat saya belum bersekolah dasar, ayah dan ibu membawa saya ke Pekanbaru, mengunjungi sanak-keluarga. Ketika sampai di jalan Sudirman, tepatnya di depan Kantor Gubernur itu, mata saya tak berkedip melihat pesawat. Dan itulah pertamakali saya melihat bentuk pesawat dari dekat. Pikiran saya langsung menerawang; bagaimana rasanya naik pesawat itu ya? Siapa saja yang boleh naik pesawat? Sehubungan bertambahnya umur dan bacaan saya, maka yakinlah saya bahwa orang berilmu dan berduitlah yang bisa naik pesawat, yang bisa dengan enjoy mengendarai awan di langit. Dan sejak itulah saya makin giat sekolah, biar bisa naik pesawat, bisa terbang ke mana-mana, bisa menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan Azza Wajalla ini.
Sebuah monumen sekali lagi, bukan hanya pengingat masa lampau tapi pemberi kompas untuk jalan panjang di masa depan. Menukar tugu pesawat dengan patung orang menari zapin adalah sebuah kecerobohan dalam memaknai nilai Melayu yang sesungguhnya. Alasannya jelas; orang bisa saja memandang dan berpikir seolah makhluk Melayu Riau itu identik dengan main-main, lekat dengan seni-menyeni, tari-menari, joget berjoget, dendang berdendang, puisi mempuisi, berhubung erat dengan sesuatu yang sifatnya hayal-menghayal karena kemampuan intelektual mereka dipertanyakan. Artinya, patung-patung yang dibuat sekarang itu menjadi refresentasi dari budaya malas yang selama ini selalu didengungkan orang yang kurang suka kepada Melayu. Seolah, orang Melayu tidak perlu pandai buat pesawat terbang, dan bisa terbang melanglang buana ke negara manapun dengan kemampuan iptek dan imtaq-nya yang juga terbilang. Orang Melayu seolah hanya pandai membuat, bermain layang-layang dan menaja festival layang-layang, gasing dan sebagainya. Orang Melayu seolah terbuai dengan masa lalu, dan tak punya masa depan, sehingga simbol-simbol yang berserak itu hanya benda-benda yang ada di masa lampau, yang sebagiannya memang sudah punah di negeri ini, contoh kecilnya ikan selais. Di mana orang bisa mendapatkan ikan itu di kota ini sekarang? Kalaupun ada, paling-paling dibawa dari sungai Kampar, dan itupun kala banjir tiba. Dan saya khawatir, sebagian orang yang membuat patung ikan itu pun ada yang tak tahu bentuk ikan selais itu sebenarnya. Karena, ketika kami menjadi juri pada sayembara logo dan maskot POPNAS XI Riau yang lalu, ada yang menyebut ikan tongkol yang dibuat peserta ikan selais. Saya terpontang-panting ketawa. Dan tentang patung selais yang tersergam di depan kantor Walikota itu saja, Pakcik saya yang datang dari Kandis bertanya heran kepada saya, “Apakah ikan selais di Pekanbaru ini berwarna kuning emas, Ven?” Saya lagi-lagi tertawa terbakah-bakah. Pertanyaan itu tak saya jawab, tapi dalam hati saya katakan, “Mereka itu latah, Pak! Tak tahu pura-pura tahu! Sebab, kalau orang sudah menjabat seolah-olah semua yang ada di dunia ini dia tahu. Dan tak perlu bertanya lagi kepada ahlinya.”
Kembali ke patung zapin! Saya hendak bertanya kepada penggagas dan pembuat ide itu. Nilai apa yang dibawa patung itu? Nilai melenggang-lenggok? Maaf, mempertontonkan aurat di depan orang ramai? Atau kita anggap seni tari zapin itu berasal dari Riau ini? Kalau yang terakhir tadi alasannya, hmm, jauh sebelum orang Riau daratan ini mengenal zapin, orang Kepulauan Riau sana sudah mempraktekkan budaya itu dalam masyarakat sehari-hari. Bahkan Umar Amin Husin, orang Riau yang pernah menjadi atase kebudayaan di Mesir menyebut bahwa tari zapin di Kepulauan Riau itu cikal bakal tari modern di Indonesia. Atau paling tidak, sebelum orang Pekanbaru mengenal budaya itu, orang Siak pun sudah lama sekali melakukannya. Lalu apa alasannya? Apa pesannya? Lagipula perlu diingat,  katanya Melayu itu identik dengan Islam. Islam mana yang membolehkan orang memperbanyak patung? Walau masih terjadi ikhtilaf di kalangan ulama tentang boleh atau tidaknya buat-membuat patung, tapi kenapa orang-orang di pemerintahan Riau ini mau terlibat pada sesuatu yang berbau syubhat itu? Mana lembaga MUI, mana lembaga keagamaan Islam yang lainnya? Mana lembaga adat? Kenapa tuan-tuan diam sahaja?
Kini tugu pesawat bakal dihancurkan, saya menangkap sinyal lain, ini menyiratkan seolah orang Melayu buta dan tak bisa menghasilkan teknologi, tak boleh menikmati high technology, padahal pemerintah Riau alpa, sudah berapa banyak anak Melayu Riau ini yang sekejap lagi bakal jadi insinyur teknologi di luar negeri, yang kini sedang hidup-mati bersekolah di Turki, di Jerman, di Inggeris dan negara-negara besar lainnya? Pernahkah Pemerintah Provinsi Riau memberi bantuan beasiswa buat mereka? Saya yakin, jangankan menyalurkan bantuan beasiswa buat mereka, mendata mereka pun belum pernah dilakukan. Bahkan, ada seorang anak negeri yang kini belajar technology tinggi di Turki ternyata lahir dan dibesarkan oleh seorang ayah yang menjadi pensiunan golongan satu. Sudah hampir lima tahun tak bisa balik ke Riau karena tak ada ongkos pulang! Hui, pedih. Sungguh zalim kita rupanya. Yang mendapat beasiswa dari duit Riau hari ini malah para pejabat yang menyapu duit beasiswa itu demi mengejar pangkat dan jabatan supaya bertenang-lenang sesudah masa pensiun; bukan buat anak bangsa, buat anak negeri yang bersungguh-sungguh menimba pengetahuan demi kegemilangan Riau di masa depan.
Tuan dan puan pembuat kebijakan, sadarlah. Daripada membuat patung-patung yang minim guna itu, lebih baik serahkan uang itu kepada anak muda yang mau belajar serius di universitas-universitas bergengsi di luar negeri. Kalau itu dilakukan, tuan-tuan pun akan menjadi monumen ingatan orang-orang cerdas di hari depan. Kalau hanya membuat patung-patung proyek itu saja yang bisa dilakukan, maka tuan-tuan akan menjadi buah cibir kekesalan anak cucu di kemudian hari. Bila budaya patung-mematung ini terus berlanjut, dan tak ada tempat di negeri ini kecuali patung-patung yang berserak di kota ini, maka dikhawatirkan, para kita pun nantinya bakal membuat patung diri sendiri sebelum betul-betul menjadi patung karena dipanggil Yang Kuasa. Ya, mungkin patung-patung kita itu akan bernasib seperti patung Saddam Husein yang dikapak rakyatnya setelah ia terjungkal dari kekuasaan. Akh, semoga janganlah. Wallahu ‘alam.   

0 komentar:

Poskan Komentar