Minggu, 20 November 2011

Ayam


Griven H. Putera
Ayam
Hari ini saya sedang tidak mengupas “Ayam”; satu judul cerpen hebat  Sutardji Calzoum Bachri yang terkumpul dalam buku “Hujan Menulis Ayam” terbitan Indonesia Tera beberapa waktu lampau yang sempat menghebohkan benawa sastra tanah air. Atau tidak pula mengurai filosofi ayam dalam cerpen “Bapak Ayam”, salah-satu cerpen saya dalam kumpulan cerita pendek “Tenggelam” yang diterbitkan Mahkota Riau tahun 2003. Tapi sekali ini hendak, entah mendongeng, entah membuat esei atau entah apalah agaknya. Tulisan ini tak bisa saya definisikan dengan apapun karena antara nyata dan hayal serupa tanpa dinding. Tapi kalau tuan dan puan hendak mendefinisikannya, dan menerjemahkannya, saya pun tiada melarang karena itu hak tuan dan puan.  
Kini saya hendak tuliskan tentang ayam denak, ikhwal ayam maha liar yang mungil, bersuara mersik dan berbulu lincap. Yang lamannya adalah padang ilalang, kayu-kayan di rimba belantara. Kajangnya langit luas nan terbentang. Rumahnya adalah seribu dahan. Ya, ayam yang membawa segubal kisah-kisah jumawa.
Demikianlah, di sebuah negeri mimpi yang memiliki presiden yang hebat lagi kaya-raya, sang presiden suatu hari meminta ayam denak kepada para gubernurnya. Salah-seorang gubernur asbun [asal bunyi] menyambut permintaan presiden dan menyebutkan, bahwa di negeri Ketebung terdapat banyak ayam denak dengan berbagai corak warna, bunyi kokok serta tuah-muahnya. Sang gubernur negeri Ketebung pucat mendengar informasi rekannya itu. Cerita tentang ayam denak yang diinformasikan tadi hanya ada pada masa dahulu. Kini yang banyak di negeri yang ia pimpin hanya ayam-ayaman. Ia kesal pada rekannya yang juga gubernur itu, kalau mau ambil muka dan minta jabatan jangan sampai mengorbankan orang lain, gerutunya dengan muka limau purut. Tapi di sudut lain, dalam hati kecil, ia juga geli kepada sang presiden. Wah, kenapa presiden perlu pelihara ayam denak pada era teknologi sekarang ini? Tanyanya dalam hati sambil dihimpit resah.
Ayam denak itu sebenarnya simbol yang hebat. Pada ayam denak tertulis sejarah panjang tentang ayam dari segala jenis ayam yang selalu bebas dan merdeka sebagai bangsa ayam. Pada ayam denak tersemat cerita, bahwa mereka peliharaan para mambang, mainan dara peri atau timang-timangan orang bunyian. Pada ayam denak terhimpun ribuan kisah tentang hal-hal yang berbau gaib dan mistis walaupun ayam itu sendiri tak tahu menahu apa itu gaib, apa itu mistis. Apa itu tuah, apa itu mambang, apa itu peri. Dan mereka pun tak tahu apa itu manusia. Yang ia tahu, bahwa manusia selalu ingin menangkapnya dengan jerat atau menembaknya dengan benda panjang yang selalu terdengar meletus. Dan ayam denak juga tak mau tahu kenapa pula ada manusia yang suka kepada mereka. Kalau mengharap daging, tentulah lebih empuk ayam ras atau ayam kampung peliharaan biasa. Ayam denak bertubuh kecil berdaging liat. Suka main di pohon, makannya cacing dan ulat gemulat. Tak tentu hujan, panas, siang dan malam—hidup selalu bergelantungan dari dahan ke akar, dan ke ranting kayu. Bagi yang jantan, berkokok sana, berkokok sini, berbini sana, berbini sana, itulah kerjanya. Keluar masuk hutan adalah permainan dan jati diri mereka. Ayam denak tak pernah bisa masuk kampung mencicipi butir beras. Konon, telur ayam denak tak pernah bisa  dieramkan kepada ayam kampung biasa. Kalaupun pernah dicoba, pas ketika menetas, anaknya pun langsung menyelusup ke semak, bagai burung wak-wak menyelinap di bawah “bangkar”, hilang lenyap tiada berkesan. Berkumpul lagi dengan sanak keluarganya di rimba dalam. Hal ini terjadi, mungkin karena ia merupakan species ayam yang sangat istimewa; ayam yang punya “cengkodi” kata orang Melayu. Maka jangan heran ayam denak harganya bisa selangit dan diidamkan banyak orang. Kalau tak pandai menangkap ayam denak, jangan coba-coba. Ayam denak rela mati daripada jadi piaraan manusia. Ayam denak pun selalu disematkan orang pada manusia yang bertubuh kecil tapi berotak besar dan panjang. Tipologi manusia yang bertubuh kecil, berwawasan luas dan tak mudah ditaklukkan. Serta ia tak pernah mau diatur manusia lain apalagi manusia-manusia yang sok hebat. Tipe ayam denak ini adalah tipe pengatur, bukan diatur. Tipe manusia brilian.
Begitulah, gubernur negeri Ketebung pun pening tujuh keliling. Ke mana mau mencari ayam ini? Setiap hari kepalanya pusing memikirkan ayam denak. Karena saban kali bertemu dengan presiden dalam banyak rapat dan pertemuan resmi dan tak resmi, tuan presiden terus saja bercerita tentang ayam denak. Dan semakin lama, di ujung cerita ayam denaknya itu, sang presiden pun mulai membuat kalimat-kalimat yang  tak sedap dan tak nyaman didengar, bahwa presiden, menteri dan gubernur itu katanya satu kesebelasan sepakbola. Kalau menteri dan gubernur tak bisa main dan tak mau mengikuti keinginan kapten serta pelatih, maka kapan-kapan bisa diganti dengan pemain lain, minimal menjadi pemain cadangan sajalah. Kalau memang suatu saat akhirnya dianggap tak layak lagi dalam tim, maka silahkan mundur.
Setiap mendengar cerita itu, gubernur Ketebung pun menggigil badannya, keringat dingin mengucur deras mulai dari kening hingga tumitnya. Tak ia sangka, gara-gara ayam denak, ia bakal direshufle, sungguh kata reshufle itu, kini menjadi sesuatu yang amat menakutkan baginya. Mendengar kata itu baginya bagai mendengar dentuman petir di tengah hari, bahkan semakin lama seperti mendengar bunyi meriam yang melolong di pokok lubang telinga.
Sampai cerita ini berakhir, dan saat tidur ini jaga, nasib gubernur negeri Ketebung pun belum juga jelas tanah tepinya. Ia semakin lama semakin risau, kian hari bibirnya kian pucat, mukanya pasi, hatinya pun seperti semakin layu. Sudah banyak jenis kiriman yang bagus dan indah diberikannya kepada Presiden, seperti burung pungguk, burung ketitiran, burung tiung seri gading, dan lain-lain. Tapi semua itu tak menghentikan bualan sang presiden. Semakin lama presiden semakin nikmat dan memuncak emosinya kalau bercerita tentang ayam denak. Tapi apa sesungguhnya yang diinginkan sang presiden itu? Apakah ayam denak itu bermakna simbolik?
Karena para gubernur tak ada yang sehebat ayam denak, maka mereka pun diam saja, dan menganggap ayam yang diinginkan presiden itu memang ayam denak biasa, bukan ayam denak yang laur biasa yang ada dalam bayangan tuan presiden.
Gubernur negeri Ketebung kini mulai saban malam bermimpi tentang ayam denak. Ia mengigau sambil senyum-senyum. Bercakap dalam tidur sambil sesekali berkokok nyaring. Istri gubernur negeri Ketebung pun mulai risau dan kalang kabut karena pada penyakit ini tak bisa ditangani dokter spesialis, mungkin saat ini hanya bisa ditangani dukun, tapi dukun mana lagi yang bisa mengobati orang tersampuk cengkodi denak? Lagi pula, di mana pula mencari kayu sesalai yang dipercaya sebagai salah-satu obat igau denak ditemukan karena hutan telah hancur lebur digasak orang-orang tak bertanggungjawab?
Ayam denaak, ayam denak. [Maaf, ini hanya fiktif belaka! Tak ada sangkut-kait dengan negara tuan-puan ini. Ha ha ha.]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar